Flares in Distance (3)
3
Locked – Questions
Sekembali ke Hutan Timur.
Permukaan sungai merefleksi taburan cahaya putih kecil di atas langit. Angin bertiup lembut, membelai puncak retih api di dekat sepasang “kamar” portabel yang telah berdiri kokoh. Ken duduk bersila memangku mangkuk plastik berisi sup. Beberapa potong kentang, wortel, serta pemenuh nutrisi seadanya bercampur dengan kuah beraroma memanjakan hidung.
Lelaki itu menyesap isi mangkuk seraya menunduk. Satu jam lalu, (sekali lagi) nyawanya nyaris hangus di tangan monster. Symphony rupanya jujur. Eve, yang kini duduk di seberang api unggun, jelas bukan remaja sok tangguh seperti perkiraan Ken. Menyaksikan perempuan itu bertarung, caranya menaklukkan monster, bahkan mustahil sedemikian terampil dengan berlatih setahun.
“Tadi itu …,” kalimat Ken menggantung. “Tidak kusangka monster selevel Larva Ombak tumbang secepat itu. Kurasa dia ringan bagimu?”
Pandangan Eve terangkat. “Makhluk itu cerdik, tapi kemampuan aslinya tidak seseram stereotip.”
Cerdik? Ken memaksakan senyum tipis. “Kalau di posisimu, ketepatan daya pikir monster kuanggap mimpi buruk.”
“Pengecut.”
Fokus Eve spontan beralih pada Symphony. Elang itu asyik saja menikmati daging ikan di dekat cakarnya, seolah kata yang ia lontar tidak membuat bahu Ken sedikit meremang.
Bisikan datar, “Jaga sikapmu.”
Symphony mendongak, memandang masternya sebentar, lantas menunduk perlahan sarat meminta maaf tanpa suara.
“Tidak apa. Elangmu benar.” Ken menghela napas pelan seraya menatap Eve. “Aku akan jujur.”
Hening menyeruak. Sementara dua pasang mata mengarah padanya, pemuda kurus itu kembali mengatur napas, bersiap membuka hal yang serapat mungkin ia sembunyikan.
“Seperti kartu mencatat, peranku di aliansi sebatas anggota cadangan. Unit Bantuan. Gabungan bakat yang belum berkembang dan orang-orang payah. Aku golongan kedua.”
Api meretih sesaat. Tak ada komentar.
“Aku pecundang sejak awal. Fisikku paling lemah, nihil keselarasan dengan senjata, berhasil bertahan semata-mata karena aliansi mengirim Unit Bantuan menjaga perbatasan. Monster-monster sibuk meladeni para penyerang. Anggota cadangan tidak pernah bertarung. Dan aku memang tidak bisa bertarung.”
Eve akhirnya membuka suara. “Kau belum menjawab pertanyaanku.”
Dahi Ken berkerut samar. “Soal apa?”
“Kejadian sebelum hewan buas. Pasti ada penjelasan mengapa kau berakhir sendirian.”
Laki-laki itu menunduk dalam. Haruskah ia bilang? Mengilasnya saja Ken sangat enggan. Raungan lantang, rintih yang tak terselesaikan …. Tidak. Ia tak sanggup menjelaskan.
“Orang Asing gemetar.” Celetuk pelan Symphony berhasil menarik Ken keluar dari pikiran.
Pandangan yang perempuan masih lekat ke arahnya.
“Baiklah. Kuanggap kau masih tegang. Sejak pengejaran gorila, ini kali kedua kau hampir tewas.”
Wajah Ken kembali terangkat. Pendengarannya saja, atau memang nada bicara Eve sedikit … merendah? Mengapa aneh melihat sorot matanya tetap datar?
Symphony baru saja menelan gigitan terakhirnya. Perempuan itu juga tampaknya telah selesai.
“Segera habiskan dan istirahatlah. Kuharap kau lebih tenang saat bertemu rekanku besok.”
Walau tak sepenuhnya bingung, Ken hanya mengangguk dan menandaskan isi mangkuk.
***
“Halo! Orang Asing masih tidur?”
Ken bergegas muncul di bingkai pintu. Wajah pemuda itu tampak lebih segar. Sinar matahari menyiram lembut iris kecokelatannya.
“Oh, kau sudah bangun. Ayo, Master menunggumu.” Symphony mengepakkan sayap riang, membimbing Ken ke belakang tenda. Eve berdiri di sana. Fokus pada proyeksi mengambang di atas pergelangan tangan.
Langkah Ken tertahan. Sejak kapan dia mengenakan gadget?
“Orang Asing di sini, Master.”
Eve mengalihkan pandang. Symphony hinggap di puncak kepala, sementara Ken masih berjarak beberapa langkah darinya.
“Kemarilah.” Saat Ken tiba di sebelahnya, Eve mengubah posisi layar agar pemuda itu dapat melihat tulisan yang tertera di sana.
Perempuan itu bertukar pesan entah dengan siapa.
Tersisa 500 meter dari koordinat. Semua siap?
Inikah ‘rekan’ yang semalam dia bicarakan? Ken menyembunyikan niat—sepertinya tidak etis menanyakan siapa yang hendak datang.
“Paman masih di jalan, ya?” Suara Symphony malah semakin mengundang tanya dalam hati Ken.
Siapa, katanya?
Eve menutup proyeksi hologram. Dengung benda terbang terdengar beberapa detik kemudian. Ken mendongak. Sebuah kapsul perak terlihat mendekat, lambung luarnya memainkan pucuk pepohonan. Bergerak mulus ke bawah, mengambang sejengkal dari tanah, mendesing halus seiring pintu terbuka di pelataran kemah.
Seorang pria melangkah keluar. Setelan serbagelap tersandang di postur tegapnya; jaket kulit hitam, sepatu lapangan, celana yang didesain untuk menaklukkan dingin pegunungan. Wajah pria itu kelihatan tegas sekaligus menyenangkan—tersirat jenaka dari sorot matanya. Rambut tebal diikat tak terlalu kencang, beberapa helai dibiarkan jatuh ke pundak.
“Paman Makelar! Selamat datang.” Symphony bersorak. Sayapnya kembali melebar, mengentak udara pelan.
Sembari mendekat, sosok tegap tersebut melempar senyum hangat, balas berkata, “Kumaha, daramang?”
Mata Ken mengerjap. Sepanjang hidupnya, ia hanya mengenal bahasa Inggris dan Jepang. Pria itu bicara apa?
“Damang!” Symphony menanggap antusias.
Eve mengembuskan napas tertahan. “Tidak satu pun paham bahasa leluhurmu, Neo.”
Tawa renyah. “Yah, elangmu pengecualian. Apa kabar?”
“Seperti yang terlihat.” Eve membuka kotak logistik mini di hadapan lawan bicara. Enam buah vial terbaris rapi di dalamnya. “Netralisasinya sukses.”
“Ekstrak racun Larva Ombak, varian tropis. Klienku pasti bersemangat.”
“Seharusnya Paman datang lebih awal. Duel tadi malam benar-benar seru! Master mengalahkan Larva Ombak hanya dengan dua teknik.”
“Begitukah?”
“Dia berlebihan.” Eve menyahut seraya menaruh kotak di lantai kapsul. Lelaki berkucir tidak peduli, sepenuhnya fokus pada Symphony yang terus berceloteh.
Entah mengapa Ken mendeteksi ada hal ganjil. Atmosfer di sekelilingnya sungguh kontradiktif—ocehan riang Symphony, sikap dingin Eve—tetapi pria yang baru tiba ini tidak kaku sama sekali.
Berselang beberapa saat, “Hei, kau tidak bilang kita punya tamu?”
Ken mendapati balik lehernya tergelitik ketika si pria menoleh. Symphony juga berjengit, seakan baru menyadari ada ‘pihak lain’ tengah berusaha mencerna situasi.
“Kami menemukannya di Jakarta, pekan kemarin,” jawab Eve sesampai di dekat Ken.
“Dan kau membawanya sejauh ini?”
Bibir perempuan itu terbuka sedikit, namun mengatup tanpa megucap huruf satu pun.
“Aku memanggilnya Orang Asing.”
“Oh ya?” Pria berjaket terkekeh. “Hai. Aku Arneo. Siapa namamu?”
Gawat. Daftar persiapan Ken tidak mencatat akan ada pertanyaan seperti ini. Napas pemuda itu tercekat sepersekian detik.
“Ken. Kenji Hoshizora.” Yah, paling tidak, suaranya masih terdengar stabil.
“Tidak masalah mereka di sana?” Arneo bertanya seraya memastikan pintu kapsul terkunci rapat. Dari lingkaran kaca, terpampang Symphony sedang menemani Ken di sekitar kemah.
“Symphony mengawasinya selama aku menghadapi monster.”
“Oh?” Arneo mengangguk. Pria itu lalu beranjak ke salah satu kursi di bagian belakang kapsul.
“Jadi, perkara penting apa yang hendak kausampaikan? Tidak biasanya mengharuskan empat mata.” Ia memadukan cara bicara formal dengan nada sedikit bergurau.
“Kau pasti kenal seragam itu,” tutur Eve langsung, merujuk setelan tempur yang dikenakan Ken.
Sekali lagi Arneo mengangguk. Sadar ada yang berbeda dengan tatapan Eve, lelaki itu mulai memasang ekspresi serius. “Sesuatu mengganggumu?”
Sejenak hening menyusup. Perempuan di dekat Arneo menghela napas sembari menempelkan punggung ke dinding kapsul.
“Semalam, orang itu menyatakan tidak bisa bertarung. Unitnya juga tidak ditugaskan berhadapan dengan monster. Tapi kami justru bertemu saat hewan mutasi siap mengepung. Di Jakarta tak ada pendaratan malam itu. Bagaimana menurutmu?”
Ruas telunjuk Arneo mengetuk-ngetuk dagu, alisnya bertaut. “Penyusup? Astaga, jangan berprasangka buruk.” Lelaki itu menggeleng. Bergurau.
Eve menyeringai sumir. “Imajinasimu terlalu epik.”
“Baik. Izinkan aku tanya sedikit.” Arneo memutar kursi. “Apa yang membuatmu membawanya kemari? Kau nyaris tak pernah terlibat sejauh ini dengan pendatang asing. Terlebih ...,” pria itu menggerak-gerakkan jemari, menganggap kalimat berikutnya berpotensi mengusik Eve; Ken dari aliansi.
“Tak ada pilihan lain,” ujar Eve. “Mungkin keberadaannya sebatas kecelakaan misi, tapi daratan ini terlalu kejam untuk amatir.”
“Jadi ...?”
Perempuan itu mengembuskan napas pendek. “Kupikir, kau punya ruang untuk seorang asisten? Setidaknya—untuk urusan di dalam sini—dia terlihat terampil.”
Di luar kapsul, Symphony memekik, “Bukan begitu, Orang Asing!”
Pandangan Eve sejenak teralih, Arneo pun belum sempat bereaksi. Tapi laki-laki itu sepertinya tertarik memindai yang terjadi.
Eve berdeham kecil, “Kau ada saran? Bilang saja kalau keberatan.”
“Tidak.” Arneo tersenyum simpul. “Tapi aku harus memastikan dia sosok yang seperti apa. Sahabatku tak ingin ada yang terluka, ya?”
Eve menepis sorot meledek yang terlontar padanya. “Setuju atau tidak?”
Yang laki-laki terkekeh. Seraya bangkit, Arneo menurunkan risleting jaket, menoleh sebentar pada barang pesanan di sudut lantai. Detik itu, sakelar ide di kepalanya terasa dialiri listrik.
“Kalian sudah sarapan?”
Sesaat Eve mengernyit. Rekannya enak saja pandai banting setir. “Belum.”
“Bagus. Aku terpikir sesuatu.” Pria itu bertepuk tangan satu kali, beranjak ke bagian depan kapsul, namun genggamannya tertahan di kenop pintu.
“Aku pinjam elangmu. Tidak akan lama. Jangan keluar sebelum aku selesai, oke?”
Sebelum Eve membuka mulut, langkah Arneo lebih dulu turun. Terdengar klik setelah pintu ditutup. Perempuan itu tersentak, namun tak berkata apa pun. Sensor kunci berkedip-kedip biru.
“Lihat! Begini jadinya kalau tidak mendengarkanku.”
Ken buru-buru menarik kotak logistik dari sungai. Perbekalan Eve dan Symphony berlalu terseret air.
“Maaf,” pemuda itu mengusap belakang leher, setengah meringis.
Gerutu elang putih terus melengking.
“Sedang apa?”
Ken patah-patah menoleh. Symphony melirik sinis, pipinya menggembung ketika hinggap di bahu Arneo.
“Paman dan Master seperti sedang serius, jadi aku mengajaknya menyiapkan sarapan. Tapi lihat yang dia lakukan.” Paruh sang elang menunjuk kotak kosong, diikuti sorot bertanya dari sosok di hadapan Ken.
“Maaf ...,” suara halus itu lebih mirip mencicit kali ini.
Arneo tersenyum kecil menepuk pundak Ken—yang refleks berjengit. “Bukan masalah besar.” Melihat Symphony kembali siaga omel, pria itu berkata lagi, “Kalau hendak masak, biar aku yang urus bahannya. Kebetulan, aku juga sedang lapar.”
“Paman bawa cadangan?” Symphony memiringkan kepala.
Saat itu Ken sadar, raut Arneo hanya tampak meyakinkan. “Tidak.”
“Lantas?”
“Kita cari saja, bagaimana? Sekitar sini pasti banyak buah dan sayuran.”
“Ah, benar juga.”
“Baiklah, kau memimpin jalan.” Sang pria menurunkan Sypmphony dari bahunya. “Kau juga ikutlah.”
Ken terserang gelombang heran. Ia hanya pendatang, namun mata ramah itu masih belum menyimpan senyumnya, malah semakin merekah.
Mengangguk tanpa sempat pikir panjang, Ken mengiring langkah keduanya menuju hutan.
“Master tidak ikut juga?” Symphony bertanya.
“Ada sisa keperluan.” Arneo menyahut ringan—seolah ‘asal’ mengunci rekan tidak perlu ditanggap serius.
Persis kali sebelumnya, Ken melangkah paling belakang. Arneo menyejajarinya.
“Ken.” Bariton lelaki itu sekejap menyentil. “Boleh aku memanggil begitu?”
Yang ditanya mengangguk. Jujur, Ken tidak tahu alasan keberadaan Arneo membuat geraknya seolah kikuk.
“Sudah berapa lama menjadi Assassin?”
Baik. Pertanyaan Arneo nyaris selalu membuat Ken tersedak oksigen. “Belum lama ..., Tuan. Setengah tahun.”
“Begitu, ya ....” Arneo bergumam. Kilas gugup di mata si pemuda terlalu jelas untuk diabaikan. Ia melambaikan tangan. “Tidak usah formal. Panggil Arneo saja. Kurasa aku masih cukup muda, haha.”
Ken tidak punya ide merespons bagaimana. “Eh, baiklah,” sahutnya pelan.
“Kau bisa masak?”
Ken mengerjap sesaat. “Ya ... lumayan.” Mengapa ia bicara seakan tengah menghadap bos besar? Padahal kalau diperhatikan, nada bicara pria di sampingnya tidak menekan—justru terdengar ... entahlah. Hangat?
“Baguslah. Tampaknya, rekanku akan tak sempat bergabung menyiapkan, dan aku buruk soal mengolah makanan. Tolong, ya.”
“Eh, ya.”
Astaga. Ini permainan macam apa? Ken penasaran, bagaimana bisa ia dipertemukan dengan orang-orang menyerupai paradoks bernyawa? Belum sehari semalam, pemuda itu menyaksikan unggas lancar bicara; remaja dingin sanggup mengalahkan monster secerdas Larva Ombak; lalu sekarang .... Sejak awal, Ken menerjemahkan Arneo sebagai sosok netral—tidak sedingin Eve, punya selera humor cukup baik, tetapi tidak secerewet Symphony.
Dua puluh menit merangkak bagai sejam.
“Apakah selesai?” mata Symphony menyipit memerhatikan isi kotak di tangan Ken. “Memangnya cukup?”
“Rupanya dugaanku salah. Tumbuhan di sini banyak beracun, ya.” Arneo menambahkan dua butir apel ke dalam kotak, sebelah tangannya berkacak pinggang.
“Mungkin kita bisa memasak ikan?” Ken bicara tanpa sadar. Sesaat kemudian bahunya meremang, namun ia melirik sang elang, melanjutkan, “Semalam kau memakannya, kan?”
“Oh, ide bagus.” Arneo ikut menatap Symphony. “Berarti saatnya kembali.”[]
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Komentar