Syaiful Rahman

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
AMEL GAK MAU JADI DOKTER

AMEL GAK MAU JADI DOKTER

AMEL GAK MAU JADI DOKTER

Oleh Syaiful Rahman

Mahasiswa S-2 Manajemen Universitas Negeri Surabaya

Amel sangat gelisah. Dia berangkat pagi-pagi sekali ke sekolah.

"Kok sudah mau berangkat, Mel?" tanya Bu Ina, mama Amel.

"Amel ingin segera ketemu Bu Vina, Ma," jawab Amel. Bu Vina adalah wali kelas Amel.

Setelah mencium tangan mama dan papanya, Amel langsung berangkat ke sekolah. Dia naik sepeda sendirian.

Setengah jam kemudian, Febi dan Ria datang menjemput Amel. Mereka biasa berangkat bersama ke sekolah.

"Amel ada tante?" tanya Febi ke Bu Ina.

"Loh, Amel tadi sudah berangkat."

"Iya ta tante?" tanya Febi lagi tidak percaya.

"Iya. Katanya mau ketemu Bu Vina," jelas Bu Ina.

"Yaudah deh, Tante. Makasih ya," pamit Febi dan Ria.

"Iya. Hati-hati di jalan. Jangan kebut-kebutan," pesan Bu Ina.

Sepanjang perjalanan ke sekolah Febi dan Ria bingung. Mereka bertanya-tanya, kenapa Amel berangkat duluan. Biasanya mereka bertiga selalu berangkat bersama.

Febi, Ria, dan Amel memang bertetangga. Rumah mereka tidak terlalu jauh. Sejak masih TK hingga SD, mereka selalu di sekolah yang sama. Jadi, enak, mereka bisa berangkat dan pulang sekolah bersama-sama setiap hari.

Perjalanan ke sekolah tidak terlalu lama. Hanya butuh waktu 15 menit.

"Itu Amel," kata Ria sambil menunjuk ke arah Amel.

"Eh iya. Ayo, cepat!" sahut Febi.

Mereka mempercepat kayuhan sepedanya. Lalu, mereka memarkir sepedanya berjajar dengan sepeda Amel.

Mereka segera mendekati Amel yang sedang duduk sendirian di depan kelas. Wajah Amel terlihat gelisah.

"Kamu kenapa, kok enggak nungguin kita?" tanya Ria.

"Kamu sedih ya?" tambah Febi penasaran.

Amel diam sejenak. Dia tidak segera menjawab pertanyaan dua sahabatnya itu.

"Aku pengin ketemu Bu Vina," sahut Amel pelan.

"Memangnya ada masalah apa?" tanya Febi semakin penasaran.

"PR," jawab Amel singkat.

"PR?" tanya Ria kaget. "Hari ini kan gak ada PR."

"Bukan yang hari ini. Yang kemarin," jelas Amel.

"Yang disuruh nulis cita-cita?" tanya Febi.

"Iya."

"Kamu kan sudah selesai?" tanya Ria.

"Iya. Tapi, aku mau ganti jawaban."

"Kalau begitu, ayo kita ke ruang guru saja," Febi memberikan usul.

"Betul itu. Siapa tahu Bu Vina sudah datang," tambah Ria penuh semangat.

Mereka bertiga pun kompak ke ruang guru. Mereka mencari Bu Vina. Febi dan Ria sebagai sahabatnya menemani Amel.

Ternyata Bu Vina sudah datang. Setelah mengucapkan salam, Amel dan dua sahabatnya langsung masuk ke ruang guru. Mereka mendekati Bu Vina.

"Ada apa ini kok tumben ke sini?" tanya Bu Vina sambil tersenyum.

"Ini Bu, Amel mau ganti jawaban PR yang kemarin," jawab Ria cepat.

Ria memang terkenal lebih berani berbicara. Kadang dia berpuisi di depan kelas. Kalau Febi dan Amel lebih pendiam.

"Memangnya kenapa kok Amel mau mengubah jawabannya?" tanya Bu Guru.

Amel diam saja. Malu dan takut. Amel hanya menunduk.

"Mel, jawab tuh," suruh Ria sambil menyenggol tangan Amel.

Tanpa banyak bicara, Bu Vina langsung mengambil PR Amel.

"Di sini Amel menulis, Amel bercita-cita ingin jadi dokter," kata Bu Vina membaca jawaban PR Amel. "Mau diganti jadi apa? Kan sudah bagus, keren jadi dokter?" tanya Bu Vina lagi.

"Enggak, Bu," akhirnya Amel mau berbicara. "Amel mau jadi guru saja."

Dua sahabatnya dan Bu Vina terheran-heran mendengar jawaban Amel. Febi dan Ria masih ingat, sejak TK Amel memang ingin jadi dokter. Febi ingin jadi pegawai bank. Ria ingin jadi penyiar.

"Kenapa mau diubah, Mel?" Febi yang mudah penasaran ikut angkat bicara.

"Amel gak mau jadi dokter, Bu. Dokter ditakuti anak-anak. Amel mau jadi guru saja. Disenangi anak-anak," jelas Amel panjang lebar.

Mendengar itu, Febi dan Ria terbengong-bengong. Sementara Bu Vina tersenyum.

"Enggak kok, Mel. Dokter itu juga disenangi orang. Enggak nakutin," jelas Bu Vina.

"Tapi, buktinya, kalau adik saya di rumah nangis, Mama Amel selalu menakut-nakuti adik dengan dokter. Katanya, kalau nangis nanti akan dibawa ke dokter," jawab Amel masih menunduk.

Bu Vina menarik napas pelan. Dia tersenyum mendengar penjelasan Amel. Febi dan Ria pun ikut tersenyum.

"Mama Amel itu hanya ingin adik Amel diem. Tidak nangis. Tapi, bukan berarti dokter itu nakutin. Amel pernah kan pergi ke dokter?"

"Iya, Bu," sahut Amel.

"Apa dokter menakutkan?"

"Enggak, Bu," jawab Amel diikuti Febi dan Ria.

"Iya. Dokter tidak menakutkan. Justru dokter mengobati penyakit Amel. Jadi dokter juga enak loh, bisa membantu banyak orang," jelas Bu Vina.

"Iya, Bu. Dulu waktu Ria sakit, Ria dibawa ke dokter sama Mama. Ria dikasih sirup yang rasanya manis, Bu," Ria nyambung dan cerita dengan penuh semangat.

"Nah, tuh Ria juga bilang kalau dokter bisa mengobati orang. Enggak menakutkan," ucap Bu Vina. "Sekarang, apakah Amel masih mau mengubah cita-citanya?" tanya Bu Vina lagi.

"Iya, Bu. Amel mau jadi guru saja," jawab Amel.

Bu Vina, Febi, dan Ria semakin kaget mendengar jawaban Amel.

"Dokter kan belajar ke guru, Bu. Jadi, Amel bisa jadi gurunya dokter."

Mendengar jawaban Amel, semua serempak tertawa.

"Amel, Amel, yaudah ubah dulu jawabanmu," kata Bu Vina sambil geleng-geleng kepala.

Surabaya, 14 Januari 2019

Profil Penulis

Syaiful Rahman dilahirkan di Sumenep, 14 Agustus 1995. Putra bungsu pasangan Asrawi (alm) dan Nadiya ini menunjukkan minatnya dalam dunia kepenulisan sejak masih duduk di bangku SMP kelas 7. Dia adalah alumnus Universitas Negeri Surabaya (Unesa).

Beberapa karyanya yang berupa reportase, cerpen, puisi, dan esai telah diterbitkan di berbagai media massa. Selain itu, dia juga sudah menerbitkan lebih dari 14 buku, baik berupa antologi, bunga rampai, maupun karya mandiri. Kini dia dipercaya menjadi editor di MediaGuru dan instruktur nasional MediaGuru.

Untuk menjalin silaturahmi, dia dapat dihubungi melalui 081915522463 (WA), kacong1408 (IG), Syaiful Rahman (FB), atau di [email protected] (email).

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar




search

New Post