Sayyidah Redha Hidayah

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Bab 22, Ujian Tahfidz

Ujian Tahfidz

بسم الله الرحمن الرحيم

Selagi ada usaha Keberhasilan menantimu di depan mata

..

“Em Non, Kayaknya lagi bahagia banget ya non? Dari tadi bibi liatin senyaam senyuum, ada

apa sih non?” Tanya Bi Tika, Bibi yang sudah merawatku sejak umurku menginjak masa

merah putih. Aku langsung terdiam, menarik senyumku sedari tadi yang tak sengaja terukir

begitu saja. “Enggak apa apa bi,” elakku yang langsung mendekati bi Tika yang sedari tadi

sibuk menyiram tanaman tanaman indah didepan rumahku. “Bi, boleh Dai bantuin gak?”

tanyaku seraya memegang kedua pundak sang bibi. “Eh enggak usah, nanti kamu

kecapekan lagi, nanti malah bibi yang diomelin kalau kamu kenapa kenapa” Khawatir BI

Tika yang langsung mencegah niatku untuk membantunya. Aku segera mengangguk pelan

dan langsung memanyunkan bibirku. “Oh ya bi, habis ini Dai mau pergi kontrol dulu sama

ibu sama Ayah juga, Jadi Dai boleh minta tolong sama Bibi enggak?” ucapku seraya

memerhatikan keadaan. Bibi sedikit mendekatkan dirinya didekatku dan menyimak

ucapanku. “Ashiaaapp, non, Laksanakan-!!!!” Jawab Bibi seraya mengangkat kedua

jempolnya. “Aih, pelan pelan aja bi, jangan kenceng kenceng” ucapku seraya melihat kearah

dalam rumah. “Oh ya maap maap non”.

“Teh, tolong bukain pintu mobilnya” perintah ibu sembari menggendong adik perempuanku

yang baru lahir setahun yang lalu. Namanya Ayna Azura, umurnya kini jalan 1 tahun

semenjak Desember kemarin. Aku segera membukakan pintu mobil seraya mencubit pipi

Ayna. “Tidur mulu kamu dek” gemasku. Ibu tersenyum, dan langsung menyuruhku masuk

kedalam mobil. Selama perjalan menuju rumah sakit, aku termenung menatap kaca, merasa

sepi ditengah keramaian suara Ayah dan Ibu yang sedari tadi asik bersenda gurau. Aku

teringat akan penyakitku ini, aku takut penyakit ini akan menggerogoti organ tubuhku,

menghancurkan impianku, Bahkan membatasi umurku. Aku belum sempat menjadi orang

yang berguna dimuka bumi ini, dalam keluarga pun aku belum bisa diandalkan sekalipun.

Bangunan ini terus dipenuhi orang orang yang berlalu lalang, ada yang tengah menangis,

ada yang berwajah masam, dan ada pula wajah berseri seri yang tengah membawa salah

satu keluarganya yang sudah sembuh dari penyakitnya. Saat aku melihat wajah wajah

mereka, aku dapat meyimpulkan, bahwa kehidupan ini memang tidak seterusnya berjalan

mulus melainkan juga terkadang mereka terpeleset, terjatuh, bahkan tersandung.

.

“Bu, Dai sudah sering sekali mendengar kata kata transplantasi dari setiap dokter yang kita

kunjungi, apa sekarang Dai sudah bisa tau arti dari kata kata itu?” tanyaku dengan tatapan

berharap untuk diberitahu. Ibu tersenyum, “Ibu rasa, Dai sudah cukup besar untuk

mengetahui hal ini, Kata Dokter, Dai harus melakukan transplantasi , ya, sejenis operasi,

Dai emang mau?” tanya Ibu seraya mengelus kepalaku. Jujur, saat itu aku terbungkam, tak

percaya kata kata yang aku takutkan sedari dulu sudah terdengar di telingaku. “Operasi

bu?!.” Aku kini berteriak mendengar apa yang ibu ucapkan. Ibu membuang nafasnya kasar,

lalu mengelus rambutku, “ iyaa sayang”. Aku terdiam tak menjawab apa yang ibu tanyakan.

Segera aku berlari menuju kamar, menjauh dari orang-orang dan memilih untuk sendiri.

Menangis tak karuan mendengar peryataan yang sebenarnya, sesak di dada ketika aku

akan melewati fase dimana semuanya itu hanya benar benar bergantung kepada takdir.

Saat itu aku merasa seperti orang gila yang masih memiliki jiwa dan pemikiran masih

memiliki perasaan yang kini sudah hancur berkeping keping. Bersembunyi dibalik bantal

guling, dan kubiarkan guling ini menjadi saksi bisu dimana aku pernah merasakan hal paling

menyedihkan didalam kehidupanku.

Saat aku benar benar merasa terpuruk hari itu, aku mendapat sebuaah notif yang tak kutau

dari siapa berasal. Dengan malas, aku meraih hp yang berada sedikit jauh dari posisiku.

Mengernyit dahi melihat nomer tak dikenal dengan bio bertuliskan bian-bekasi memberiku

sebuah pesan.

Aku segera menderai air mataku yang sedari tadi masih menetes, mengubah posisi menjadi

duduk bersandar. Aku mulai mengetik jawaban dari chat yang tidak dikenali si pengirimnya.

Semakin lama semakin membuat rasa penasaranku diambang batas, karena tutur bahasa

dan cara ia menuliskan pesan seperti sudah lama sekali mengenal diriku.

Akupun bernafas lega setelah mengetahui bahwa dia adalah Fabian, cowok yang sudah

lama menyukaiku. Tak ada minat untuk mengirim pesan dengan siapapu, akupun segera

mematikan total layar handphoneku.

.

“Fadhil sekelompok sama Febby dan Dai yaa” ucap Umi yang sedang membentuk

kelompok per-target. Entahlah, aku dapat tersenyum kali ini ketika mendengar nama

tersebut disebut. Fadhil tersenyum kearahku, dan langsung bangkit menghampiriku.

“Assalamualaikum” salamnya seraya menatap penuh wajahku. “kelompok Fadhil dimentori

Dai ya” lanjut Umi. Fadhil meng-iyakan kata kata umi dan langsung kembali menatap diriku.

Dia tidak pernah tau betapa gugupnya aku ketika ditatapnya. Fadhil kembali tersenyum, lalu

sedikit membungkukkan badannya bagai Pangeran di kartun disneyland, “Mohon

bimbinganya kaka” Ucap Fadhil. Aku sedikit menunduk menahan rasa malu. “Terserah

kalian mau dimana tempatnya, Umi mau ke dapur sebentar” Ucap Umi. Febby

menghampiriku dalam keadaan wajah masam. “Kenapa Febby gak diajak?” Ucap Febby

sedikit merajuk. Aku tersenyum, lalu merangkulnya, “Sini Febby, kita kerja bareng bareng

yaa” ucapku seraya tersenyum.

Hampir satu tengah jam aku menjelaskan mengenai hukum hukum Qawariro. “Jadi cara

membaca qowariro ada 3, yaitu, Pada akhir ayat 15, jika waqof, ra nya dibaca panjang, awal

ayat 110 ra nya dibaca pendek, Pada Ayat 15 hingga 16 jika washol, kedua ra nya dibaca

pendek, Dan Pada ayat 15 hingga 16 dibaca washol jika terpaksa berhenti di Qowariro Ayat

16, maka ra yang pertama dibaca pendek dan ra yang kedua dibaca sukun. ْDan diulang

dari Qowariro yang kedua, ra nya dibaca pendek, Sampai dsini masih ada yang belum

mengertikah? Febby? Ka Fadhil?” tanyaku seraya memerhatikan satu persatu wajah

mereka berdua. Aku merasa, Fadhil sedari tadi terus menatapku tak berkedip, aku bimbang

antara senang atau takut. “ka?” panggilku membuyarkan lamunanannya. Febby langsung

sedikit meledek kedekatanku dengan Fadhil. “Ekhem-!!!” ledek Febby. Aku yang malu

langsung acuh dengan sosok bernama Fadhil. Ya, walaupun hati tengah berjingkrak hebat.

Kejadian kejadian seperti ini, terus berulang dihari hari selanjutnya dimana aku dan Fadhil

tengah melakukan penambahan materi secara kilat sebelum menghadapi Ujian Tahfidz

Akbar.

..

“Tak terasa, sudah panjang perjalan kita teman teman dan esok adalah hari dimana

penentuan kerja keras kalian semua ini akan terjawab, Jika besok ada yang tidak lulus,

bukan berarti dia gagal, mungkin kerja kerasnya yang kurang, atau mungkin, memang

sudah takdir Allah jalannya seperti itu, namun kalian harus tetap semangat, pelajari apa

sudah yang dipelajari, ulang ulang kembali, Dan jangan lupa berdoa.. Semangaat teman

teman-!!!” Ucap Umi Tina dan Umi Nana dengan semangat membara, membangunkan jiwa

semangatku. Aku tertunduk menanam jiwa semangat dalam diriku. Terus berfikir ‘Aku pasti

bisa’. Fadhil tersenyum kearahku, “Malam ini, pulang sama aku yuk” ajak Fadhil. Aku

terdiam, tak tahu harus bersikap seperti apa, rasanya ingin terbang kelangit ketujuh

sekarang. “Mau enggak??” tanyanya kembali. Aku mengangguk pelan, lalu tersenyum

kearahnya. Seketika, Febby yang mendengar pembicaraanku dengan Fadhil langsung

mengadu kepada Umi. “Umii, anak murid umi tuh ada yang lagi kasmaran, hampir satu

minggu ini sering banget pulang bareng, deket, kalau satu kelompok udah kayak surat sama

perangkonya, ga bisa lepas, sampai sampai, Febby yang ada di kelompok itu, kayak cuma

pajangan semata, tak dianggap” Ucap Febby dengan memerhatikan kami berdua. Umi yang

mendapat aduan dari Febby langsung menatap aku dan Fadhil yang kini duduknya

bersebelahan. Seketika kami menjadi titik fokus mereka. “Hai” ucapku dan Fadhil

berbarengan dengan nada enggan. Seketika mereka bersorak melihat kami bisa bersamaan

menyebutkan kata yang sama. “CIEEEEE” ledek Umi dengan teman teman. Pipiku kini

memerah tidak tau harus bersikap seperti apa, rasa malu, senang, terharu bercampur aduk

menjadi satu. Sedangkan Fadhil hanya tersenyum lebar mendapat ledekan seperti itu.

Dalam hatiku bertanya tanya, mengapa dia tidak marah jika di jomlangin dengan orang

seperti aku. “Udah, Umi restuin deh kalian,, Fadhil ganteng, Dai cantik, sama sama pinter,,

Udahlah” tambah umi sengaja supaya membuat pipiku semakin memerah.

..

“Mba, gak usah jemput Dai ya, Dai pulang bareng temen, makasih mba” Ucapku yang

langsung memtikan sambungan telepon tersebut. Fadhil yang masih memegangi helm dari

tadi hanya menatap wajahku sedikit lama. Aku yang salah tingkah dibuatnya, segera

emngambil helm dari tangannya. Fadhil tertawa melihat wajahku yang tengah salah tingkah

dibuatnya. Saat aku ingin duduk di jok belakang motornya, suara umi terdengar dari lantai

atas. “Dhil, hati-hati, nitip anak umi yaa,, jangan sampai kenapa kenapa, Jangan ngebut,

Jangan Modus” ledek Umi seraya tertawa kecil. Fadhil yang mendengar seruan umi, segera

memberi homat siap dengan suara yang lantang. “Siap, Laksanakan-!”. Suara yang

ngebass itu membuatku semakin tergila gila dengannya. Aku hanya menunduk, demi

menahan malu yang sedari tadi kualami. Umi memanggil namaku, “Dai, jangan nunduk

mulu dong” Ledek umi seraya mengangkat kedua alisnya. Aku pun segara mengangkat

kepala lalu tersenyum kearah umi. “Umi, kita balik dulu yaa” Pamit Fadhil. “Iyaa, hati hati”.

Jalanan yang sepi, membuatku menjadi teringat betapa dekatnya aku dan Fadhil sekarang.

Benar, apa yang diucapkan Febby tadi, aku baru menyadarinya bahwa aku bisa sedekat ini,

berbincang dengan segala topik, kemana mana selalu berdua, dan masih banyak lagi bukti

kedekatan kami, dan itu berjalan sejak satu minggu belakangan ini. Dan aku terus berharap

bahwa ini akan terus terjadi hingga masa masa yang akan datang.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar




search

New Post