Raina Tazkia Paramitha

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
AKU RINDU BERSUA

AKU RINDU BERSUA

Pertengahan Maret tepatnya 14 Maret 2020. Saat itu aku akan pergi ke sekolah. Tiba-tiba saja, ada kabar bahwa sekolah diliburkan selama 14 hari. Aku senang sekali, walaupun aku tidak tahu alasan sekolah diliburkan. Kemudian aku bertanya ke kakakku, kakakku pun bercerita padaku bahwa kota kami, Solo, telah mengumumkan adanya Kejadian Luar Biasa (KLB) karena penyebaran virus corona.

Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) yang lebih dikenal dengan nama virus Corona adalah jenis baru dari coronavirus yang menular ke manusia. Virus ini bisa menyerang siapa saja, seperti lansia (golongan usia lanjut), orang dewasa, anak-anak, dan bayi, termasuk ibu hamil dan ibu menyusui. Virus ini sangat berbahaya dan dapat menyebar dengan sangat cepat. Dalam beberapa bulan, virus yang awalnya ditemukan di Wuhan, China telah menyebar ke berbagai negara. Virus ini bisa menyebar lewat percikan liur saat batuk dan nanti akan menganggu system pernapasan.

Dua pekan berlalu, ternyata libur sekolah diperpanjang dari 30 Maret 2020 sampai 13 April 2020. Mamaku mengatakan kalau akan diterapkan PJJ (pembelajaran jarak jauh). Jadi aku mengerjakan tugas yang diberikan guru di rumah, dan mengirimkannya ke WhatsApp apabila telah selesai. Aku juga belajar lewat saluran Televisi (TVRI) dan Radio (Konata). Awalnya aku senang belajar lewat televisi, tapi lama kelamaan aku mulai lelah dan bosan. Bapak ibu guru yang mengoreksi tugas kami lewat ponsel mulai merasakan dampaknya, terutama pada indra penglihatan yang mulai sakit. Dengan alasan tersebut, maka pihak sekolah mengeluarkan kebijakan untuk memberikan tugas berbasis kertas. Tugas diambil pagi hari dan dikembalikan hari berikutnya.

Hari berganti minggu, dan minggu berganti bulan. Memasuki bulan Mei, tapi belum ada tanda tanda masuk, bahkan hingga bulan Juli tiba. Juli, tepatnya tanggal lima belas, sekolah membentuk kelompok kecil untuk para siswa. Tiap kelompok beranggotakan 5-9 siswa dengan rumah yang berdekatan. Home Visit, itulah kira-kira informasi dari bu guru. Rumah strategis yang mudah dijangkau anggota kelompok dan luas, sehingga meski kita berkumpul untuk belajar masih tetap bisa menjaga jarak, dijadikan tempat belajar bagi kelompok kami. Selain menjadikan anak tidak bosan belajar di rumah, home visit juga dijadikan sarana mendekatkan guru dengan siswa. Hal ini dikarenakan sejak naik kelas, kami dan wali kelas baru kami belum pernah bertemu. Tentu saja, saat home visit kami tetap mengikuti Protokol Kesehatan (PROKES) yang telah ditentukan.

Akhirnya aku dapat bertemu dengan teman-temanku. Walau hanya sebagian dan tidak bisa berdekatan seperti dulu sebelum adanya corona, aku senang sekali. Kelompok kami bertemu dua kali dalam sepekan, dengan jadwal yang telah ditentukan. Entah sampai kapan kami akan seperti ini, yang jelas, aku hanya bisa berdoa semoga corona segera berlalu. Aku rindu dengan keadaan sebelum datangnya corona. Aku rindu bersekolah, bertemu Bapak dan Ibu guru, juga bermain kejar-kejaran, petak umpet, pergi ke kantin, dan tertawa bersama teman-temanku.

Referensi: https://www.alodokter.com/virus-corona

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar




search

New Post