Maulida Mys.

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Detektif Disa pt. 2 (End)
Detektif Disa 2; THUMBNAIL>

Detektif Disa pt. 2 (End)

Besoknya ada kabar berita pencurian uang di perumahannya. Pencurian ini terjadi di dekat cafe ‘Light’ tempat yang Disa kunjungi kemarin. Tepatnya warung kopi. Disa langsung teringat pada 2 laki-laki kemarin. Tak lama, ia langsung memanggil ayah, mama, kak Arin, dan adiknya tak perlu. Dia masih tidur. Xixixi (authornya gbt).

“Ada apa Disa? Kok kayaknya penting banget,” tanya kak Arin yang sebal Disa memanggil mendadak.

“Penting banget kak ini, tentang pencurian uang warung kopi itu,” jawab Disa.

“Yasudah, cepat ceritakan!” mama menambahkan.

“Jadi gini, kan kemarin kita ke cafe ‘Light’ dan saat perjalanan menuju cafe, aku hanya melihat ke jalan. Aku lihat ada warung kopi yang katanya ramai. Ternyata warung kopinya di dekat cafe itu. Saat ayah menyuruh untuk buang air, aku tidak mau dan akibatnya aku kebelet di cafe. Aku langsung pergi ke toilet. Di sana, aku melihat ada gang. Karena banyak pertanyaan yang melintas di benakku, tanpa berpikir lama aku langsung pergi ke gang itu. Saat sampai, ternyata itu gang buntu. Berakhir dengan pohon yang tinggi-tinggi. Tapi, aku melihat ada 2 lelaki yang sedang berbicara di balik pohon-pohon itu. Sayup-sayup, aku mendengar kata “laci”, “kopi”, dan “pergi”. Aku tak mendengarkan jelas sebab dapur sangat berisik. Aku mengintip. Aku memperhatikan jelas wajah mereka. Dan untungnya aku mengingatnya dengan jelas.

Saat aku mendengar kata-kata mereka, aku langsung berpikir begini. Mereka sepertinya ingin mencuri di warung kopi saat penjual dan pembelinya pergi. Sepertinya malam itu juga, penjual pergi dan tak ada yang menjaga warungnya. Pencuri itu beraksi...” panjang Disa.

“Wah...kalau begitu, bagaimana cara kita mencarinya?” tanya ayah stelah Disa selesai berbicara.

“Entahlah, aku juga tidak tahu. Warung itu juga agak jauh,” jawab Disa.

Keluarga Disa berpikir keras. Dan tiba-tiba ada seseorang mengucap salam.

“Assalamualaikum, permisi. Ini pak RT!” ternyata pak RT.

“Waalaikum salam, silahkan masuk pak,” jawab ayah.

“Tidak usah pak, disini saja. Saya hanya ingin menginfokan untuk rapat di balai. Tentang pencurian uang warung kopi. Sebab, polisi telah menyelidiki, bahwa pelaku disekitar sini,” lanjut pak RT.

“Siap pak,”

“Alhamdulillah jika bapak berkenan, silahkan berkumpul di balai ya pak. Saya dan anak-anak saya mau keliling dulu mengajak yang lainnya untuk rapat juga. Wassalamualaikum,” pak RT pun pamit.

Setelah terkumpul...

Semua bapak-bapak pun menyampaikan pendapatnya. Sekarang giliran ayah Disa unuk berbicara. Disa juga ikut sebagai sanksi.

“Silahkan Disa,” ucap ayah.

Disa mengamati seluruh penduduk yang hadir. Matanya terarah ke seorang bapak yang duduk tepat di sebelahnya.

“Bapak pencurinya kan?” Disa langsung menuduh. Dia memelototi bapak tersebut.

“Coba jelaskan dulu Disa alasannya,” ujar pak RT yang kaget tiba-tiba Disa menuduh salah satu peserta rapat.

“Jadi begini...”

“Seperti itulah pak, dan wajah yang saya ingat adalah bapak ini,” lanjut Disa. Semuanya pun menoleh ke bapak Rian, bapak yang duduk di sebelah Disa.

“Apa benar pak?” tanya pak RT.

“Tidak kok! Saya tadi malam ada di cafe Light,” jawab Pak Rian. Sepertinya pak Rian sedang keadaan mabuk.

“Nah ketahuan! Saya tidak melihat bapak di cafe kemarin,”

Pak Rian pun diserahkan kepada pak polisi. Dan dipenjara sebab alasan pak Rian mencuri hanya untuk mabuk. Ia juga dipenjara bersama temannya.

Semua warga pun berterima kasih pada Disa. Termasuk bapak penjual kopi. Bapak penjual kopi itu sedang mencari uang untuk biaya berobat anak-anaknya dan malam itu ia terburu-buru sebab anaknya sedang membutuhkan bantuan. Ia langsung meninggalkan warungnya dan lupa akan uangnya yang masih tersimpan di laci. Beliau sangat berterima kasih pada Disa.

“Kamu hebat banget Disa! Ayah bangga sama kamu, bisa memecahkan masalah yang besar,” ujar ayah memuji Disa saat sudah tiba di rumah.

“Terima kasih ayah...untungnya aku penasaran dengan gang itu,” canda Disa.

“Hahaha, benar sekali,” tambah kak Arin.

“Kamu harus disebut ‘Detektif Disa’!” mama menyahut.

“Hehe, lain kali kalau begitu aku akan mengungkapkan kejahatan!” Disa menjawab dengan semangat. Dan keluarganya pun tertawa sekaligus bangga pada Disa.

TAMAT~ (uyey)

***

Assalamualaikum, halo semuanya!

Gimana ceritanya ini? Seru enggak? Ini cerita mendadak si, pengen posting tapi gaada ide:”) Terus ini ceritanya juga terinspirasi dari game Among, aku jadi detektif nyari impostor. Dan selalu bener, cuma gaada yang percaya:) Tapi di cerita ini semua percaya! Sabar ya buat author:/ (Gabutnya saia:))

Follow saia di sinii

http://maulidddaaa.sasisabu.id/

Baca part 1 tinggal klik! (Kalo mau baca ulang:p)

http://maulidddaaa.sasisabu.id/article/detektif-disa-1-1465752

Sekian, terima kasih buat yang sudah baca!

Wassalamualaikum,

HAVE A NICE DAY!🦋

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar

Yeayyyy seruruurururu

16 Dec
Balas

Tysm Caesaa:p Cerita kamu juga ga kalah seruu><

16 Dec

Makshh

16 Dec

Iya hehe. (Ini second acc maulida)

16 Dec

ngapa gak dilanjutiiin

18 Dec
Balas

Kan sudah selesaii

19 Dec

perasaan kalau di hp blm login bisa loh bkin akun lg

16 Dec
Balas

Iya, bener, huhuu. Tapi kalo log out di laptop ke log out juga ga di hp?

16 Dec



search

New Post