Fatimah Aida

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Duduk Di Jendela, Dan Melihat Dunia. Bab 6 (Bag 3)

Setelah aku dan Nafisah makan camilan bersama, mengobrol, dan... “Huh! Tidak menunggu sahabat saat menyantap camilan? Kesalahan besar!” Zea yang baru datang mengomel tanpa henti. “Maaf, sekarang bisa kan?” Nafisah menjawab santai, “terlambat” katanya. Apa? Terlambat? Kenapa? “Teeeet! Teeeet!” ternyata bel masuk sudah berbunyi. Aku langsung berlari menuju kelas, takut terlambat. Ternyata itu maksud kata ‘terlambbat’ yang dikatakan Zea.

Akhirnya bel berbunyi lagi, pulang sekolah. Aku segera berlari ke gerbang sekolah untuk menunggu Mama, karena aku sekolah full day dan pulang jam 4 sore, sama seperti Mama ketika pulang bekerja. Jadi Mama yang menjemputku ketika pulang sekolah. “Tin tin!” suara klakson mobil berbunyi, klakson mobil Mama! Aku segera meminta pak satpam membuka gerbang, memperlihatkan mobil Mama. Mama turun dari mobil dan menjemputku. Dan akhirnya Pak Satpam mengizinkanku pulang. Memang belakangan ini banyak penculikan anak, apalagi ketika pulang sekolah, jadi sekolah kami memperketat keamanan. Siswa tidak boleh pulang jika yang menjemput bukan orang yang dikenal, jadi orang yang menjemput harus menjemput didepan gerbang.

“Bagaimana sekolahmu Noora?” Mama untuk yang seperseribuan kali bertanya, “baik Ma” aku menjawab singkat. “Pantas saja kamu tidak bicara panjang lebar, ternyata sedang melahap coklat sendirian,” Mama menatap wajah belepotan karena coklatku. “Mama mau dong,” kata Mama sembari menjulurkantangan, aku memberi satu potong coklat kepada Mama.

“Mama, tahu tidak, tadi ada anak bernama Kia. Kata Nafisah Kia baru pulang dari prancis, dia sombong Ma. Noora kesal dengan Kia, soalnya tadi Kia bilang dia putri,dia harus dihormati. Huh! Pokonya dia menyebalkan Ma!” aku bercerita panjang lebar. Mama mengangguk angguk, “dulu teman Mama juga ada yang seperti itu, memang sangat menyebalkan. Kami pernah bertengkar, dan karena pertengkaran itu Mama dan dia seperti musuh besar. Tetapi, karena pertengkaran itu juga Mama dan ia bersahabat, jika Noora punya teman seperti itu, mungkin pertengkaran kalian tadi adalah perantara kalia menjadi sahabat.” Huh! Mana mau aku jadi sahabat orang sombong seperti Kia? Ditawarkan saja aku tidak mau!

Tak terasa kami sudah sampai dirumah, aku segera masuk dan duduk di sofa di ruang keluarga, rasanya sangat nyaman duduk di sofa empuk ini setelah seharian duduk di bangku kelas ditambah ocehan tak berguna Kia. “Mandi dulu Noora,” Mama bersuara ketika baru saj tiba di ruang keluarga, “iya Ma...” aku menjawab walau masih duduk di sofa, “Noora! Mandi!” sepertinya Mama mulai marah, sebaiknya aku segera mandi.

“Segar sekali!” aku baru saja selesai mandi, setelah itu aku turun ke lantai satu dan berjalan menuju ruang tengah sembari mebawa ponsel. Saat aku menylakan ponsel... wow! ‘Ada apa ini? Kenapa Nafisah mengirim pesan sebanyak ini? Dan... ada apa dengan grup kelas? 99 chat belum terbaca?’ gumamku. Grup kelas 5 yang kumaksud adalah grup teman temanku.

bersambung....

Assalamu'alaikum semua! Apa kabr?

Jadi bab 6 nya mungkin aku bagi jadi 5/4 bagian (belum tahu).

Soalnya entah kenapa panjaaang bangettt ceritanya. Maaf ya.

oke segitu dulu ya!

Bye!

Salam: Fatimah Aida

*Maaf banyak typo

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar

Ku tunggu lanjutan nya

14 Jan
Balas

Oke!

15 Jan



search

New Post