Aisha Mumtazah Jauhari

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Qur'an From Heart (Bab 1)

1. Awal Mula Mimpi Itu Terbit

Hari ini adalah hari penentuan. Hari yang selama ini aku dan teman-temanku tunggu. Pengumuman. Ya! Pengumuman tentang siapa masuk kelompok mana. Kelompok bimbel atau bimbingan belajar untuk kelas enam ini memang membuat kami semua antusias. Terlebih lagi jadwal bimbelnya Hari Sabtu. Hari Sabtu dan Ahad kami libur sekolah. Sekolah masuk dari hari senin sampai Jum’at. Jadwal bimbel akan membuat libur kami menjadi lebih bermanfaat.

Rencana pembagian kelompok bimbel ini sudah disampaikan wali kelas beberapa hari yang lalu. Kelompok bimbel dibagi menjadi empat kelompok A, B, C dan D. Kelompok ini ditentukan sesuai kemampuan masing-masing siswa. Dari tadi juga kelas benar-benar heboh. Ada yang senang, ceria, nggak sabar bahkan sampai komat-kamit agar masuk ke kelompok terbaik.

“Aku nggak sabar, nih.”

“Aku juga. Mungkin sebentar lagi.”

“Semoga kita sekelas, ya!”

“Insya Allah.”

Tepat setelah jam pelajaran selesai, Ustadz menempelkan beberapa lembar kertas di dinding dan pintu kelas. Murid-murid mengekor di belakang. Berebut hendak melihat pengumuman itu. Mencari sebuah nama di deretan daftar kelompok. Kami semua geger melihatnya. Suasana jadi ribut karena ada yang berbisik, berteriak, melompat senang, kata-kata kekecewaan, bersyukur, dan saling memberi selamat. Sebagian banyak yang bertanya ini-itu pada Ustadz. Ustadz hanya mengangkat bahu, dan geleng-geleng kepala.

Aku sendiri harus berkali-kali bilang permisi untuk bisa menembus kerumunan. Jari tanganku naik turun mencari namaku di antara daftar nama yang lain. Gerakan tanganku baru berhenti ketika tiba di salah satu nama, ‘ANASTASIA SHAZA’ terpajang di daftar nama kelompok A. Apa aku tidak salah lihat? Aku memastikan kembali kalau itu benar-benar namaku. Dan benar, itu betul-betul aku. Alhamdulillah … ucapku dalam hati.

“Wah, hebat kamu, Nas!”

“Selamat, ya!”

Teman-temanku menepuk pundakku. Memberi selamat. Aku tersenyum sambil mengangguk-angguk. Di kelas, aku tak sendirian yang masuk kelompok A. Sebagian temanku, seperti Soraya dan Tiara, juga masuk ke dalam kelompok A. Dan sebenarnya masih banyak lagi. Sebagian teman-teman di kelasku juga ada yang masuk ke kelompok B, kelompok C dan seterusnya. Walaupun kami berbeda kelompok, kami tidak saling merendahkan yang lain. Justru aku dan teman-temanku saling memotivasi untuk belajar lebih giat lagi.

Aku tersenyum simpul saat melihat teman-teman sama sekali tidak mempedulikan perbedaan kelompok. Kami larut dalam cerita, angan-angan dan mimpi yang kami ungkapkan satu per satu. Kami berkumpul di lantai sambil duduk bersila. Saat-saat jam kosong seperti ini memang kami manfaatkan untuk berdiskusi dan berkumpul bersama. Saling berbagi cerita dan pengalaman, bagi-bagi camilan, bercanda, ada juga yang berkutat dengan hobi masing-masing. Aku sendiri memilih menulis dan membaca buku—pinjam dari salah seorang temanku yang kebetulan membawa.

“Eh, kalian tahu nggak?” tanya Rania yang sedang mengerjakan tugas Matematika. Rania merupakan temanku juga, ia menjabat sebagai bendahara kelas.

Kami menoleh. “Nggak, kan, kamu belum kasih tahu,” sahut Zara nyengir. Belakangan ini ia terpilih sebagai koordinator kebersihan kelas.

“Besok pelajaran SBK (Seni Budaya Keterampilan) kita diminta Ustadzah untuk presentasi. Memasaknya di tunda minggu depan. Gimana menurut kalian?”

“Presentasi apa?” tanyaku.

“Tentang cita-cita. Kita menggambar lalu dipresentasikan. Nanti Ustadzah yang akan menilai sendiri,” jelas Rania antusias.

“Sepertinya seru,” teman-temanku mengangguk. Kami tersenyum membayangkan gambaran cita-cita kami masing-masing.

Bel pulang berdering nyaring. Tanda waktu pulang untuk kelas empat, lima dan enam. Kami pulang jam empat sore, setelah sholat Ashar berjamaah di kelas. Sementara kelas satu, dua dan tiga pulang lebih awal daripada kami. Sekitar pukul dua siang. Saat-saat pulang ini memang saat yang kami, terutama kelas enam, nantikan. Setelah shalat Ashar di kelas, biasanya Ustadzah akan memilih siapa yang akan keluar kelas terlebih dahulu. Saat inilah kami berusaha berdoa yang khusyuk, tidak main-main ataupun bercanda. Bagi kami, ini adalah saat-saat yang menegangkan sekaligus menggelikan. Bayangkan, sebelum shalat Ashar kami masih bermain-main dan mengobrol. Masih berteriak-teriak yang membuat telinga pekak. Tapi kami sangat mengenang pengalaman ini. Ini ciri khas dari kelas kami yang membuat orang lain menggeleng-gelengkan kepala atau menahan tawa.

Setelah keluar kelas, kami biasa berlari secepat mungkin untuk bisa mendapatkan tempat duduk menunggu jemputan. Tempat duduk ini sangat terbatas, jadi kami harus cepat-cepat kalau mau dapat tempat duduk yang nyaman ini. Posisi tempat duduk ini juga sangat strategis. Di belakang, berhadapan langsung dengan kantor yayasan. Di samping, terdapat masjid sekolah dan di depannya sudah langsung gerbang dan area penjemputan. Tempat duduk ini bukan kursi atau bangku lho. Ini hanyalah tangga semen yang telah menjadi target kami sejak lama. Tak jarang juga kami menyempil atau bahkan saling pangku. Ada juga yang terpaksa jongkok karena kehabisan tempat duduk. Seperti aku contohnya, aku sering harus jongkok di tanah yang sudah berlapis kavling ini. Tapi kami senang-senang saja. Ini pengalaman menarik bagi kami.

Satu per satu kami dijemput. Saling melambaikan tangan atau sekedar bilang ‘hati-hati’. Aku di jemput tak lama kemudian oleh Mamak dengan motor maticnya. Setelah menyalami Mamak aku pun naik dan duduk di jok belakang. Sepanjang perjalanan kami diam saja. Mataku sibuk melihat ke kanan dan ke kiri. Aku memang suka mengamati apa saja. Jalan-jalan yang penuh kendaraan. Tanaman hijau tertanam di pinggir jalan, satu dua pohon-pohon tinggi menjulang terlihat di samping lapangan yang kulewati. Aku suka pemandangan alam seperti ini. Memberikan rasa sejuk dan nyaman tersendiri bagi pengendara yang melintas.

Aku menatap hampir tak berkedip pada satu bangunan yang kulewati ini. Bangunan yang berdiri kokoh dan membuatku terkagum-kagum. Masjid besar ini memang tak asing di telingaku. Hampir semua orang tahu. Masjid ini sudah menjadi kebanggaan tersendiri bagi kami. Beberapa wisatawan asing juga pernah berkunjung ke sini.

Di depan masjid terpasang spanduk cukup besar dan bisa dibaca dengan jelas. Aku membaca satu per satu kalimat yang tertera di spanduk itu. Nasib baik sedang lampu merah, aku bisa leluasa membacanya. Spanduk itu berisi tentang akan diadakannya acara hafidz cilik dan acara itu akan ada bintang tamunya juga. Aku menatap lekat-lekat. Tetapi traffic light sudah berganti warna menjadi hijau. Terdengar bunyi klakson yang seperti paduan suara meminta yang di depan agar bergegas. Tanpa diingatkan dua kali, motor matic segera melaju lurus ke depan.

Diam-diam aku berbisik dalam hati mengenai spanduk yang kulihat tadi. Aku jadi ingin seperti mereka, bisa hafal Al-Qur’an, bisa mengikuti berbagai lomba tahfidz, dan tentunya membanggakan keluarga dan kawan-kawan. Ini harus kucatat di buku harianku dan mungkin ini akan masuk dalam daftar impianku, pikirku. Aku bahkan sampai lupa memberi tahu Mamak soal pembagian kelompok bimbel tadi.

***

Sore hari ini aku menghabiskan waktu di rumah sambil membaca buku. Di sampingku bertumpuk-tumpuk buku, mengantre untuk di baca. Aku tertawa kecil saat membaca salah satu komik “Doraemon” yang lucu. Aku juga terenyuh ketika membaca novel karya Tere Liye yang terkenal berjudul “Hafalan Sholat Delisa”. Satu jam lamanya aku berada di ruang tamu. Lupa kalau hari ini ada tugas Matematika yang harus dikerjakan.

“Anas.” Panggil Mamak yang sedang melipat mukenah.

Aku menoleh, “Ada apa, Mak?”

“Ada tugas dari sekolah tidak?” tanya Mamak. Aku berpikir sejenak, lantas mengangguk.

“Kenapa belum dikerjakan?” sahut Mamak serius. Aduh, kalau masalah pelajaran Mamak tidak pernah absen mengingatkan.

“Iya, Mak, ini sebentar lagi. Nanti malam Anas kerjain,” kataku tenang.

“Nanti kamu malah ketiduran. Taruh dulu bukunya, nanti, kan, bisa dibaca lagi! Ayo, ambil buku tulisnya,” Mamak menutup buku yang sedang kubaca. Aku mengeluh, nanti, kan, bisa, gumamku. Tapi akhirnya aku menurut juga. Aku segera beranjak mengambil tas dan mengeluarkan buku tulis. Di buku ini aku biasa mencatat tugas dan pengumuman dari sekolah. Mamak menuju ruang makan, menyiapkan makan malam.

Aku melamun menatap buku tulisku. Entah kenapa aku malas mengerjakan tugas. Aku malah memainkan pulpen di tanganku. Aku baru ingat pulpen ini hadiah dari Abah saat kenaikan kelas lima dulu. Ah, cepat sekali waktu berlalu. Sekarang aku sudah di penghujung sekolah dasar, kelas enam. Bukan anak TK lagi. Kadang aku merasa menjadi kelas tertua di sekolah itu tidak menyenangkan. Aku merasa berbeda dengan kelas lain. Menurutku, kelas enam tidak bisa sebebas kelas lima atau kelas empat. Materi-materi pelajaran yang banyak harus diingat, kelas bimbel saat hari libur, ujian nasional, ujian terbuka Al-Quran (ini wajib bagi kelas enam di sekolahku) dan masih banyak lagi kegiatan-kegiatannya. Aku pernah ingin kembali menjadi kelas satu. Tetapi aku berhenti bertingkah seperti itu ketika melihat keseruan teman-temanku. Mereka antusias bercampur senang menyambut tahun ajaran baru. Aku jadi merasa lega karena ternyata mereka sekelas denganku.

Aku terdiam memikirkan sesuatu. Di depanku soal-soal Matematika yang tercatat di bukuku seperti menatapku, meminta pertanggungjawaban. Seakan-akan berkata “kalau tidak dikerjakan kenapa dibuka!”. Aku hanya terdiam menatap sederetan soal-soal itu. Otakku berpikir dan mengingat-ingat sesuatu. Setelah sekian lama merenung, pulpen di genggamanku bergerak-gerak di atas lembaran kertas. Menulis sebuah kalimat yang sempat hilang di pikiran. Pulpen snowman warna kuning itu seperti menari-nari mengikuti gerak tanganku. Ia baru berhenti ketika tiba di suatu kata, Qur’an.

***

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar

bagus, menginspirasi pembaca...

30 Jun
Balas

Terima kasih atensinya

30 Jun



search

New Post