BAB 1
BAB 1
Perjuangan mendapat beasiswa
Karin Anasya adalah seorang gadis yang unik, memiliki paras yang begitu cantik, pandai, tetapi Karin sangat pendiam. Gadis berusia 18 tahun yang sekarang duduk di bangku SMA, yang sebentar lagi akan lulus sekolah. Karin terlahir dari keluarga sederhana, yang hidup hanya dengan seorang Ibu nya saja, karena ayahnya sudah meninggal dunia sejak Karin masih kecil. Walaupun Karin terlahir dari keluarga sederhana, tetapi Karin tetap bersyukur masih mempunyai Ibu yang hebat yang bisa menjadi kepala rumah tangga yang harus banting tulang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari- hari. Ibu Nita namanya bekerja sebagai asisten rumah tangga (ART) dirumah orang kaya raya yang baik hati. Karin tidak ingin Ibu nya terus-terusan bekerja, suatu saat Karin akan buktikan kalau dia bisa menjadi orang yang sukses dan bisa membahagiakan Ibu nya.
Gadis yang memiliki paras yang begitu cantik hingga banyak laki-laki yang menggemarinya, sampai banyak yang ingin mendekatinya. Tetapi Karin sangat pendiam dan susah untuk dekat dengan orang yang baru ia kenal. Karin hanya memiliki satu sahabat yang dari kecil. Gio Abraham adalah sahabatnya, Gio terlahir dari keluarga yang kaya raya, tetapi Gio tidak pernah membedakan Karin dengan dirinya. Persahabatan yang mereka bangun dari kecil sampai sekolah SMP selalu bersama, tetapi setelah lulus SMP mereka harus berpisah, karena berbeda sekolah. Karin yang hanya bisa sekolah di SMP sederhana saja tetapi Gio sekolah di SMA terfavorit yang membutuhkan biaya yang sangat mahal. Tetapi Karin tetap bersyukur masih bisa sekolah walaupun di sekolahan yang biasa saja. Mereka tidak minginginkan perpisahan ini terjadi, tetapi Gio harus mengikuti apa kata orang tuanya. Sebelum mereka berpisah Gio sempat memberikan gantungan kunci tertera foto mereka berdua, untuk kenang-kenangan agar Karin tidak melupakan Gio.
Malam hari sebelum Karin tidur, tiba-tiba Karin teringat dengan sahabatnya. Karin mengambil gantungan kunci pemberian Gio yang ia simpan di lemarinya, Karin pun menggenggam gantungan kunci itu yang selama ini Karin masih simpan. Ibu Nita melihat wajah anaknya yang begitu murung, “kamu kenapa nak?” tanya ibu Nita ke Karin. “Karin teringat dengan sahabat Karin bu, Karin ingin sekali bisa bertemunya lagi” ucap Karin yang termenung. Ibu Nita pun berusaha memberi motivasi kepada Karin agar ia tidak termenung lagi. “Kamu jangan khawatir nak, nanti pasti kamu akan bertemunya lagi. Sekarang kamu fokus dengan sekolah mu dulu nak, sebentar lagi kan kamu lulus sekolah dan harus semangat belajar agar kamu bisa mendapat nilai terbaik dan bisa kuliah di Universitas yang terbaik, siapa tahu Gio juga kuliah disana”. Ucap ibu nita sambil memeluk Karin. Karin pun menjadi lebih semangat dengan ucapan ibunya dan ingin fokus belajar untuk mendapat nilai terbaik.
Kelulusan sekolah pun semakin dekat, kebimbangan yang Karin rasakan, harus melanjutkan kuliah atau kerja saja. Karin berusaha ingin kuliah tetapi ia sadar kalau ia tidak ada biaya. Walaupun Karin tidak ada biaya tetapi karin tidak putus asa untuk tetap bisa kuliah tanpa harus menyusahkan ibunya. Karin mulai belajar dengan giat agar bisa mendapatkan nilai yang terbaik dan bisa ikut daftar beasiswa. Karin mencari-cari informasi tentang beasiswa. Tidak ada biaya bukan alasan untuk tidak bisa kuliah, banyak cara agar tetap bisa kuliah tanpa harus membutuhkan biaya. Karin anak yang berprestasi ia yakin pasti bisa mendapatkan beasiswa untuk kuliah.
Pagi hari yang cerah tampak tegang wajah Karin, karena hari ini pengumuman kelulusan. Karin duduk di meja makan bersama ibunya, tetapi Karin tidak nafsu makan. “Sarapan dulu nak, sebelum berangkat sekolah” ucap Ibu Nita. Karin yang hanya mengacak-ngacak piringnya saja dan tidak mau makan. “Do’ain aku yah bu, semoga hasil pengumumannya aku mendapat nilai terbaik” ucap Karin mencium tangan ibunya. Karin langsung berangkat ke sekolah dengan wajah ketegangan. Di sekolah sudah ramai banyak yang menunggu pengumuman. Karin duduk di koridor sekolah menunggu pengumuman. Sudah cukup lama menunggu pengumuman dan akhirnya pengumuman di pasang di papan pengumuman. Kesenangan yang dirasanya setelah melihat hasil pengumuman, karena Karin lulus dengan nilai yang memuaskan. Wajah yang awalnya tegang seketika berubah menjadi bahagia. “Aku ga sabar ingin cepat-cepat untuk memberi tahu ibu” ucap Karin sambil jalan pulang.
Sesampainya di rumah Karin langsung memeluk Ibu nya dan memberi tahu kalau ia lulus dengan nilai yang memuaskan. “Selamat yah nak atas kelulusannya dan pencapaian yang luar biasa” ucap Ibu Nita yang ikut senang. “Terimakasih yah bu, semua ini berkat do’a dan dukungan ibu” ucap karin terharu. Kesenangan yang dirasanya hanya sesaat karena karin memikirkan bagaimana dengan kuliahnya. Karin termenung di depan terasa rumah nya. “Apa aku bekerja saja yah bantu ibu ” ucap karin di dalam hatinya”. Ibu Nita menyamperi Karin yang tiba-tiba termenung lagi. “Kamu kenapa lagi nak kok tiba-tiba ga ceria lagi?” ucap ibu Nita bertanya. “aku tidak apa-apa kok bu, aku sudah dapat informasi mengenai beasiswa bu, mudah-mudahan saja aku bisa masuk yah bu”. Karin berusaha melupakan apa yang sempat ia katakan ingin bekerja, karena ia tidak ingin membuat ibu nya kecewah. “tetap semangat yah nak kamu pasti bisa kuliah, jangan pernah berfikir untuk bekerja, biar ibu saja yang bekerja, kamu fokus saja dengan beasiswa kamu”. Begitu bangga Karin memiliki sosok ibu yang rela berkorban demi anaknya.
Karin yakin pasti bisa mendapatkan beasiswa untuk kuliah, semua tidak instan pasti membutuhkan proses, usaha tidak akan menghianati hasil. Tergantung dengan usaha dan upaya yang Karin lakukan, besar kecilnya usaha pasti akan mempengaruhi hasil yang didapat oleh Karin. Dengan wajah ketegangaan Karin memutuskan untuk mencoba banyak beasiswa. Lebih baik mencoba dari pada tidak sama sekali. Karin pergi ketempat beasiswa tersebut untuk mecobanya ia harap bisa masuk, tetapi belum masuk. Sudah 3 beasiswa yang ia coba tetapi masih belum masuk juga. Karin pergi ke tempat beasiswa satu ke beasiswa lain tetapi hasilnya membuat Karin kecewah, rasanya Karin ingin menyerah dan tidak mau mencobanya lagi. Tetapi Karin tidak putus asa dan akan mencobanya lagi.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Komentar