Ammarista D.A (a.k.a Orienelle)

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Youth Intel Patrol (Bab 3)

Youth Intel Patrol (Bab 3)

Sore, 7 Agustus 2049. Sementara Fidel, Aquila, dan Fian menaiki bus kota, May mengendarai sepeda merahnya. Dia memandangi pemandangan di sekitarnya. Gedung-gedung bertingkat berdiri menjulang, seolah saling mengadu satu sama lain, mana yang paling tinggi. Jalanan ramai oleh warga yang pulang kerja. Anak-anak sudah pulang sejak pukul 12.30. Sama semua untuk SD, SMP, SMA, kecuali universitas.

May merenung sembari memperlambat kayuhan sepedanya. Entah kenapa, tiba-tiba dia merasa tidak nyaman untuk pulang ke rumah.

“Hoi, May! Lama tidak ketemu!”

Suara itu mengagetkan May. Dia menoleh ke arah samping kanannya.

Di samping May, seorang laki-laki seumurannya juga tengah bersepeda. Dia menggendong tas ransel, tersenyum lebar. Rambutnya tersibak angin.

“Hai, Alan.” Jawab May pendek.

“Haaah, aku menyapamu dengan penuh semangat, tapi cuma itu balasanmu?”

May tetap diam, memfokuskan pandangannya ke depan.

“Suasana hatimu buruk?”

May menoleh. Alan sedang menatap ke depan, namun di wajahnya masih terukir senyum. Dia memang cowok seribu senyum.

“Yah, begitulah. Akhir-akhir ini aku banyak pikiran.” Jawab May, kembali menghadap ke depan.

“Kamu tidak boleh stress. Kita adalah agen.”

“Aku tahu itu.”

Mereka berdua diam. Tidak ada suara dari kendaraan yang lewat, semuanya memakai tenaga listrik. Tidak ada polusi suara.

Alan adalah teman satu sekolah May. Sekolah mereka tidak jauh dari sekolah Fidel dan Fian. Searah. Hanya rumah yang tidak searah. Rumah Fidel searah dengan Fian, sementara May searah dengan Alan.

May adalah teman terbaik Alan. Begitu pula sebaliknya. Mereka sudah dekat sejak kecil, sejak TK. Tidak ada yang bisa memisahkan duo itu selain divisi YIP.

Beberapa meter ditempuh dengan suasana hening, Alan berpamitan. Dia sudah tiba di gang rumahnya. May mengangguk, lalu terus mengayuh sepeda menuju rumahnya.

May memasuki kompleks perumahannya. Setelah wajahnya di-scan oleh mesin keamanan otomatis, dia diperbolehkan masuk. Rumahnya terletak agak jauh dari gerbang, harus melalui beberapa kelokan.

Begitu sampai di halaman rumahnya, May menghela nafas. Dengan lesu, dia turun dari sepeda dan memarkirkannya.

May berjalan menuju pintu. Menempelkan kartu, lalu smart lock di pintu berdering pelan. Pintu geser itu terbuka, mempersilahkan May masuk.

Sepi. May mengelilingi rumah, dia tidak menemukan mamanya di mana pun. Papanya memang masih bekerja, biasa lembur hingga pukul 11 malam. Sedangkan mamanya, adalah seorang guru. Seharusnya sudah pulang sejak pukul 3 tadi. Namun, kini, tidak ada seorangpun di rumah. Termasuk adiknya yang masih berumur 1 tahun. May lalu berasumsi kalau mamanya sedang ada urusan di luar rumah, mungkin arisan, atau belanja, atau apa pun itu. May mengangkat bahu cuek, lalu pergi ke kamarnya.

Setibanya di kamar, May langsung meletakkan tas dan mengambil handphone di dalamnya. Dia merebahkan diri di kasur, lalu menyalakan handphone dan membuka Whatsapp. Rupanya mamanya mengirimkan pesan. Beliau masih menghadiri rapat di sekolah. Sekitar jam 5 baru selesai. May menghela nafas. Dia memutuskan untuk mandi.

Fidel, May, Fian, dan Alan. Empat serangkai itu cukup terkenal di kalangan agen-agen YIP umur 12 hingga 16. Mereka berempat menduduki divisi yang berbeda, namun sering ditugaskan bersama-sama. Fidel dan May di Divisi 3. Fian di Divisi 1, sementara Alan di Divisi 2.

*  *  *  *  *

Sementara itu, di bus kota. Sebentar lagi, bus itu tiba di halte tujuan Fidel, Fian, dan Aquila. Fidel menatap pemandangan di luar jendela. Aquila melihat-lihat media sosial di handphone-nya. Sementara Fian melamun.

“Ayo, Aquila. Sudah sampai.” Ajak Fidel ketika melihat halte sudah semakin dekat.

Aquila mengangkat kepalanya. Dia mengangguk, lalu bergegas mengambil barang bawaannya.

Ciiiit. Rem bus berbunyi. Sejumlah penumpang turun.

“Aku ke arah sini, Aquila. Rumahmu di mana?” tanya Fidel.

“Rumahku di sebelah sana. Kallau begitu, sampai jumpa esok, Fidel. Fian,” Aquila menunjuk seberang jalan. Di sana, terdapat jalan kecil.

Fidel mengangguk. “Bye, Aquila.” Aquila membalas dengan lambaian tangan, lalu bergegas menyeberang. Jalanan sepi.

Fidel segera berjalan menuju rumahnya. Fian mengikuti dari belakang. Rumah mereka satu kompleks. 5 menit kemudian, mereka berdua sudah tiba di gerbang perumahan.

Fidel mengeluarkan kartu akses perumahan dan rumahnya dari dompet, lalu menempelkannya ke scanner. Portal terbuka, mempersilahkan Fidel masuk. Begitu pula Fian.

Bye, Fian. Sampai jumpa esok.” Ucap Fidel di kelokan.

Fian mengangguk. “Bye.”

Fidel masih berjalan lagi selama 3 menit dari kelokan itu untuk tiba di rumahnya. Tiba di halaman, dia mengerutkan dahi. Garasi rumahnya kosong, padahal biasanya ayahnya sudah pulang jam 4 tadi.

Fidel segera memasuki rumahnya. Dia ingin cepat-cepat mandi, lalu rebahan di kasur empuknya. Begitu pintu rumah terbuka, suara bising adik-adiknya yang sibuk bermain langsung menyambutnya.

“Assalamu’alaikum,” ucap Fidel sembari menutup pintu.

“Wa’alaikumussalam,” Bunda menjawab, berjalan dari arah dapur. Fidel menyalami tangannya.

“Kak Fidel!!” dua adik Fidel langsung berlari, berebut memeluk Fidel. Kembar laki-laki. Ferry dan Fred.

“Hai, kalian. Main apa?” Fidel membelai kepala dua adiknya lembut. Dia mengajak mereka untuk duduk di sofa. Bunda kembali ke dapur, meneruskan memasak.

“Monopoli. Bunda nemu tadi siang di gudang, lalu mengajak kami memainkannya. Seru sekali!” Ferry berseru menjelaskan.

“Ferry dari tadi hampir bangkrut, kak! Aku malah sudah berhasil beli 3 rumah!” ganti Fred yang berseru.

Fidel menatap papan permainan itu. Bentuknya seperti papan catur, bisa dilipat. Ada berbagai petak yang tercetak di atasnya. Bunda dulu pernah cerita tentang permainan ini. Zaman kakeknya Fidel dulu malah masih memakai kertas.

Ferry dan Fred sudah kembali asyik menggerakkan bidak mereka. Fidel sempat menonton beberapa menit, namun segera naik ke atas untuk mandi.

“Kakak mandi dulu, ya.” Dia mengambil tasnya, lalu bangkit dari sofa.

“Iya, kak!” ucap Ferry dan Fred berbarengan.

Tiba di kamar, Fidel meletakkan tas di kursi, melepas jilbab, lalu mengambil pakaian tidur, dan pergi menuju kamar mandi di sebelah kamarnya.

*  *  *  *  *

Selepas mandi, Fidel turun ke ruang keluarga. Dia berniat rebahan di sofa sambil menonton adik-adiknya bermain, namun ternyata mereka sudah selesai bermain dan ganti menonton televisi. Fidel bergabung, meluruskan kaki di sofa.

Berita Terkini Security Region. Telah terjadi pengeboman di pusat perbelanjaan Utara, pukul 08.03 pagi tadi. Terdapat 128 orang luka ringan, dan 9 orang luka parah. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Saat ini, agen-agen YIP dan CIP tengah mendalami lebih lanjut kasus ini untuk menangkap pelaku pengeboman.

Reporter di televisi menjelaskan kasus yang baru saja terjadi tadi pagi. Tampilan layar kini berganti menjadi video amatir salah seorang pengunjung pusat perbelanjaan yang menangkap sebagian kecil lokasi pengeboman tersebut. Fidel mengamati video itu lamat-lamat, serta memperhatikan sumber dan akun pemilik video itu.

“Waah, pasti Kakak yang menangani kasus ini, ya?” celetuk Ferry tiba-tiba.

Pandangan Fidel yang fokus kini buyar. Dia beralih menatap adiknya. “Bukan Kakak. Tapi teman Kakak yang bertugas menganalisisnya. Sepertinya, agen-agen senior lain juga ikut turun tangan dalam kasus ini.”

“Temanmu yang May itu?” tanya Bunda yang datang dari dapur.

“Iya, Bun.”

Bunda mengangguk-angguk, lalu ikut bergabung di sofa.

Video pertama tadi kini berganti ke video amatir lainnya. Fidel kembali menatap layar lamat-lamat. Mengingat-ingat sumbernya. Memperhatikan segala detail yang ada. Akan tetapi, karena video diputar dalam kecepatan normal, dan kameranya berguncang, dia tidak bisa fokus.

Klik! Tiba-tiba, channel berganti dari berita menjadi kartun anak-anak. Rupanya, Fred yang menggantinya. Dia tidak suka menonton berita, Ferry yang suka.

“Oh, iya, Ayah kok belum pulang, Bun?” tanya Fidel.

“Ayah saat ini sedang ke Resource Region. Menginap di sana sampai hari Sabtu. Hari Minggu siang, baru Ayah pulang.” Jelas Bunda.

Fidel mengangguk-angguk.

“Eh, ayo, sholat Maghrib dulu. Terus makan malam,” ajak Bunda.

 

“Iya, Bun!” ucap Fidel, Ferry, dan Fred.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar




search

New Post