Ekspresi Sang Rasa
Hari itu menjadi hari pertama dimana awal karir saya menjadi seorang penulis. Saya duduk dengan tenang sambil menikmati alunan bait yang terukir dalam selembar kertas.
Kala itu, hari pertama saya diajak membeli sebuah buku komik untuk sekadar hiburan. Awalnya saya menolak karena tak tertarik. Namun, sebuah buku komik yang kini berada di genggaman, malah menjadi saksi dari perjalanan menulis.
Siapa yang bisa menebak hari esok? Pikir saya tak ada yang bisa benar-benar menebak, kecuali dengan asumsi-asumsi tak beralasan. Begitupun dengan hari esok setelah pembelajaan komik tersebut. Saya mulai merasa ingin mengembangkan ide-ide dengan coretan tangan. Namun, saya rasa itu bukan waktunya, apalagi dengan usia saya yang kala itu baru menginjak kelas 2 SD. Saya merasa bahwa menulis bukanlah suatu kemampuan, namun menulis merupakan cara tersendiri untuk mengekspresikan rasa. Hingga keinginan mengekspresikan rasa para pembaca dengan menulis semakin mendalam. Bahkan Bunda tak segan mencari kelas menulis anak di berbagai penerbitan.
Perjuangan berada dalam kelas menulis memang tak mudah. Sekali dua kali harus dilewati dengan rasa malas serta tangis. Belum lagi dengan ide-ide yang sulit digapai, membuat saya terkadang putus asa.
Namun, Bunda pernah berpesan pada saya bahwa jika saya memiliki keinginan, maka saya harus melakukan hal tersebut dengan serius. Kalimat yang sampai saat ini masih saya pegang sebagai motivasi. Hingga saya memutuskan untuk menekuni bidang menulis dengan alasan ingin melihat ekspresi kala pembaca membaca tulisan saya, seperti saya yang ketakutan ketika membaca komik pertama yang dibeli.
Susah senang akhirnya saya nikmati dalam kata proses. Sukses itu suka proses, maka saya harus menikmati proses tersebut. Proses belajar dalam kelas menulis online saya jalani selama bertahun-tahun. Hingga tepat di kelas 5 SD semester dua saya ditawari menulis sebuah antologi cerpen. Dengan tegas saya menerima tawaran tersebut tanpa memikirkan dampak yang akan terjadi selanjutnya jika saya menjadi penulis.
Saya mengira menulis cerpen merupakan hal mudah. Nyatanya menulis merupakan hal sulit. Saya harus memokuskan beribu ide menjadi satu gagasan agar pembaca mengerti dengan cerpen saya. Berkali-kali saya harus merevisi naskah cerpen tersebut agar menjadi sempurna. Beribu catatan tak jarang membuat saya menyerah. Namun, Bunda senantiasa menyemangati saya agar naskah cerpen tersebut bisa cepat diterbitkan.
Proses Panjang dan berliku itu saya lewati dengan penuh juang. Banyak hal yang harus saya relakan demi sebuah naskah yang tak lebih dari 1000 kata itu. Hingga akhirnya, proses penerbitan pun dimulai. Buku pertama saya akhirnya sudah layak terbit, bahkan kini sudah berada dipelukan. Buku antologi cerpen berjudul ‘Gerbong Warna Merah’ terbitan Bitread 2018 itu akhirnya menjadi penunjang karir saya sebagai penulis. Bahkan kini, buku antologi cerpen itu sudah terdaftar di perpusnas dan telah dipasarkan. Saya sangat bersyukur dengan karya pertama tersebut.
Rasa senang dan bahagia saya panjatkan pada Tuhan yang Maha Esa. Berkatnya saya bisa melanjutkan kelas menulis online sebagai penulis. Berbagai karya saya akhirnya terbit dan diakui. Banyak pengalaman baru yang saya dapat ketika saya menjalankan karir sebagai penulis. Selain menulis cerpen, saya juga pernah membuat cerita bergambar, puisi, ensiklopedia, artikel, pantun, novel, dan sastra lainnya. Saya pernah menjadi penanggungjawab naskah di suatu kesempatan dan berhasil terbit dengan judul ‘Selaksa Cinta dalam Aksara’ sebagai karya ke-18 bersama Dandelion Publisher, 2020. Bahkan saya pernah menjadi penulis terbaik pada lomba yang diselenggarakan Gramedia, 2021 dan terbit sebagai karya ke-20 dengan judul ‘Bianglala Asa’.
Saya bukanlah seseorang yang pandai merangkai kalimat. Namun berkat ketekunan saya menyelami ilmu kepenulisan, saya mulai terbiasa dengan aktivitas baru tersebut. Aktivitas yang kini saya gunakan sebagai salah satu hobi terbaik dalam membantu orangtua mencari nafkah.
Saya tak jarang diremehkan sebagai penulis yang katanya kerjaannya hanya mengetik dan mengabaikan hal di sekeliling. Tapi, saya memegang tegus prinsip saya bahwa “Menulis merupakan cara mengekspresikan rasa, bukan cara untuk terlupakan.”
Biodata Penulis
Atthiyah Dinda Eziza Khairunnisaa, lahir di Bandung pada tanggal 7 April 2006. Memiliki hobi menulis, membaca, bermain game, mendengar lagu, bernyanyi, menonton film, dan banyak lagi. Saat ini telah memiliki 21 buku karyanya. Penulis kini bersekolah di SMA Quranic Science Boarding School Al-Kautsar 561, Tasikmalaya. Penulis dapat dihubungi melalui akun instagram @dindadek79_, akun wattpad @adek79_, dan melalui e-mail **(censored)**.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Komentar