Ilia Zakyfa

Laksana angin malam yang berpusar...

Selengkapnya
Navigasi Web
The Blue Sky Is Waiting for You (Full Story)

The Blue Sky Is Waiting for You (Full Story)

Di atas sana, matahari tengah meraja. Siapa pun enggan terkena sengatnya, memilih diam dalam rumah. Namun, sendirian, Chisa melangkah tanpa tujuan.

Penat melawan terik, sebuah gubuk ia jadikan tempat bernaung. Panas masih terasa, tapi tidak buruk. Disekanya peluh sembari berlurus kaki. Ah, rupanya ada orang lain di luar. Segerombol anak seusianya. Mengenakan seragam putih-merah, ransel melekat di punggung. Jam pulang sekolah. Beramai-ramai melewati gerbang, beberapa berkejaran.

Chisa menghela napas. Sejak Ayah pergi, tidak lagi ia alami hal serupa.

Anak itu menunduk, tersenyum miris. Lantas menertawakan sesuatu yang masih menetap tanpa kehendaknya; kenangan. Tentang perpisahan.

***

 “Dasar biang masalah! Kamu apakan ponsel bunda?!”

            Chisa meringkuk di sudut ruangan. Pikirannya berputar menimbang keputusan. Ingin jujur, namun takut amarah wanita di hadapannya semakin menjadi.

Perihal gawai….

Untuk anak sepantaran Chisa, benda pipih itu kerap mengundang penasaran. Ia sempat mencuri pakai beberapa kali, ketika Bunda sibuk dan Om Ryan sedang tidak mengawasi. Hanya membuka aplikasi ringan. Itu pun satu-dua menit.

Namun, tidak tahu ide dari mana, Chisa mengutak-atik lebih hari ini. Menemukan tombol berisi angka, anak itu asal tekan. Alhasil, ponsel Bunda terkunci seketika. Pemiliknya naik pitam.

Baiklah, tak mengapa. Ia mengaku salah. Sesuai dugaan, nada bicara Bunda naik satu oktaf, disusul tamparan mendarat.

Chisa terisak. “Maaf, Bunda…. Maaf….”

“Sudah dibilang, jangan pernah usik barang Bunda! Kamu tuli atau tak paham bahasa?!”

Telapak si wanita Kembali meninggalkan jejak merah.

“Chisa janji tidak akan ulang. Tolong maafkan, Bunda…”

Permohonan itu tak diindahkan. Bak kerasukan, Chisa dihajar layaknya jemuran bantal. Selepas makian, terlontar pula deret kata, “Pergi sana! Jangan berani pulang!”

Pintu dibanting dari dalam.

***

Luntang-lantung seharian menguras banyak tenaga Chisa. Tujuh puluh dua jam tubuh tidak menerima asupan, kakinya gemetar. Kedai di tepi jalan menarik perhatian. Chisa ingat, Om Anwa baru belanja kemarin. Kebetulan, di sana sedang sepi pelanggan. Ia mendekat. Batinnya berharap tidak ketahuan.

Maaf, Tuhan. Besok-besok tidak lagi.

Sebungkus roti kecil sudah dalam genggam. Chisa berbalik hendak pergi, namun seseorang menahan gerakannya.

“Bang Ian?”

Remaja lebih tua tujuh tahun itu memandang datar, menunjuk benda di tangan dengan manik mata.

“Sudah berapa kali?” tanyanya.

“Ini terakhir, Bang,” jawab Chisa.

Ian mendengus pelan. Merebut barang curian, melemparnya ke tempat semula. Chisa hendak protes. Melayangkan sorot tajam, Ian berkata tegas, “Kuperingatkan. Kalau ingin apa-apa, bilang! Jangan ambil sembarangan.”

“Tapi, Bang, Chisa lapar,”

“Pakai cara benar, bisa kan? Siapa pun tahu mencuri tidak pantas, apalagi dilakukan perempuan.”

Chisa terdiam, menunduk. Dengan suara seperti mencicit ia mengucap maaf.

“Katakan lebih jelas di depan pemilik kedai.” Tandas Ian.

Panjang umur. Tepat di ujung kalimat, Tante Una—istri Om Anwa—keluar rumah. Ia menatap bingung. “Ada apa?”

Chisa berkata takut-takut, “Minta maaf, Tante,”

Yang diajak bicara mengernyit. “Kenapa, Chisa?”

“T-tadi, Chisa a-ambil makanan tidak bayar. Tapi sudah ditaruh, tidak jadi.”

“Oh,” Tante Una tersenyum. “Tidak apa.”

Chisa tertegun. “Tante tidak marah?”

Wanita itu menggeleng. “Buat apa? Sebaliknya, Tante berterima kasih karena kamu jujur.”

Tante Una mengambil satu pak roti isi kacang hijau, menyerahkannya pada Chisa. “Ini hadiah kejujuranmu.”

Gantian alis Chisa yang bertaut.

“Ambil,” tegur Ian seraya menyikut. Chisa akhirnya menurut, mengangguk. Bilang terima kasih. Senyum tipis terbit di wajah Ian.

“Salut,” celetuk Om Anwa yang berdiri di sebelah istrinya. “Sudah lama dia tidak pulang. Senang melihatnya masih hidup.”

“Benar,” sahut Tante Una. “Tapi miris. Dia menggelandang, padahal punya rumah.”

“Aku punya ide. Rekrut Chisa jadi asisten, izinkan tinggal di rumah kita. Biar pekerjaanmu ada yang bantu. Gaji bisa diurus.”

“Setuju.”

Beberapa meter, Chisa menghentikan langkah begitu suara berat Om Anwa memanggil. Memutar tubuh, ia bertanya, “Kenapa, Om?”

Sang pria meminta Chisa kembali mendekat. Setelah maksud diutarakan, wajah anak perempuan itu berseri.

“Betulan, Om? Tante?” tanyanya memastikan.

Pasangan di hadapan mengangguk serempak. “Mulai saat ini, kamu bagian dari kediaman kami. Selamat datang, Chisa.”

***

Genap tiga puluh hari Chisa tinggal bersama Om Anwa dan istrinya. Pasangan itu teramat baik. Meski berstatus sebagai asisten, ia mendapat perlakuan layaknya anak. Rindu terhadap kehangatan keluarga cukup terbayar.

Sudah tugas Chisa membantu Tante Una. Membersihkan lantai, merapikan ruangan, serta mengerjakan cucian. Pagi ini, selesai mengepel, anak itu bergegas ke dapur. Siap dengan celemek dan spons. Namun, nyonya rumah menyuruh mundur. Ia menatap bingung.

“Kenapa jadi Tante yang mencuci?”

Tante Una tersenyum, menjawab pendek, “Kamu libur dulu.”

Chisa berniat kukuh. Tapi wanita di hadapannya lebih dulu bertitah, “Lekas mandi, sarapan. Setelah itu, kalau mau main, silahkan.”

“Sesekali bebas pekerjaan,” timpal Om Anwa.

Chisa manggut-manggut, kemudian berlalu dari ruangan itu.

***

“Hei, apa kabar?” sapa Ian seraya menghampiri Chisa di halaman belakang. Remaja itu menyusul duduk di hamparan rumput.

“Baik, Bang,” jawab Chisa.

“Bagaimana rasanya tinggal di sini? Kamu betah?”

Chisa mengangguk cepat. “Betah. Di sini nyaman. Om dan Tante selalu baik, tidak pernah marah. Tapi…,” kalimat terjeda. Ian meminta kelanjutan lewat tatap.

“Tidak tahu kenapa,” ujar si anak perempuan, pandangannya pindah ke rerumputan. “Satu bulan tinggal di sini, Chisa terbangun tiap tengah malam. Tidak bisa tidur lagi. Terus, tiba-tiba menangis. Aneh.”

“Itu namanya kangen,” celetuk Ian diiringi kekeh pelan. Chisa menatapnya tidak mengerti.

“Senang, tapi sedih di saat bersamaan, karena kamu merasa di tempat orang. Meski betah, bagimu, ini tetap bukan rumah. Kamu ingin pulang. Benar, kan?”

Retoris. Satu kristal bening lolos ke pipi Chisa.

“Iya,” jawabnya pelan. “Tapi, Bunda pasti akan marah. Kan Chisa dilarang ke sana.”

Ian mengusap puncak kepala anak itu. “Berdoa saja agar dia berubah pikiran. Tidak ada yang mustahil.”

“Om dan Tante bagaimana?”

“Aku yakin mereka memberi izin.”

Hening sejenak.

“Oke deh. Nanti Chisa coba. Chisa kangen rumah, juga Bunda.”

Ian mengulum senyum. “Semoga berhasil! Nanti, setelah Bunda berhenti marah, ayo pergi ke tempat indah.”

Ajakan itu dibalas Chisa dengan anggukkan.

***

Tentang izin, perkataan Ian tepat sasaran.

Sorenya, berbekal niat baikan, Chisa lembali ke kediamannya. Tiga kali ketuk nihil sahutan, ia memberanikan diri membuka pintu. Perlahan melangkah masuk. Senyumnya terbit begitu melihat Bunda. Menyeruak keinginan mengucapkan kata-kata maaf dan sayang.

“Bunda, Chisa pulang,”

“Mau apa ke sini?”

Nyali Chisa seketika luruh. Raut wajahnya berubah. Atmosfer tegang menyelimuti sekitar.

Terbata Chisa menjawab, “Chisa k-kangen Bunda,”

“Kangen?”

Si wanita menatap enggan. Beranjak dari kursi, gelas di meja ia lempar pada anak yang baru saja pulang. Kepingan tajam mencemari lantai.

“Lama tidak ingat rumah, ke mana saja kamu?”

“Ma-maaf… Chisa takut. Waktu itu, kata Bunda jangan pu—”

“Lancang!”

Tutup panci sempurna menghantam. Kepala Chisa berdarah. Anak itu terduduk dengan air mata tumpah.

“Jawab yang benar!”

Dengan lirih, Chisa menceritakan pengalaman selama di luar. Seputar keluarga yang mengizinkan tinggal. Terjeda beberapa isak.

“Kamu jadi jongos di tempat orang? Anak tidak tahu diuntung!”

Emosi Bunda sudah lebih dari memuncak. Berbagai macam sumpah serapah keluar. Om Ryan yang semula menonoton sekarang mengunci pergerakan Chisa. Anak itu menjadi sasaran empuk serangan alat dapur. Memar sekujur tubuh.

“Menyesal Bunda punya kamu!”

Kini, bukan jejak biru yang yang membuat Chisa merasa teriris. Ditatapnya nanar sosok ibu bertabiat bengis. Hancur.

“Ikat dia!”

Om Ryan mengangguk. Lelaki itu mengambil tali. Usai menjalankankan perintah, ia bertanya, “Anak ini mau diapakan?”

“Buang ke ayahnya,” jawab yang wanita seraya meraih kunci.

Chisa dipaksa berdiri. Ia mengikuti pergerakan Bunda keluar rumah.

Hujan turun deras. Tidak ada warga di jalan. Motor yang dua perempuan itu tumpangi melaju kencang menerabas genangan.

“Bunda, ampun… Sudah, Bunda….”

Rintih di jok belakang tidak digubris sama sekali.

“Chisa capek, mau tidur….”

Si kendaraan roda dua merapat di sudut ladang. Dekat sumur tua yang sudah lama kering, serta beralih fungsi menjadi tempat membuang sampah botol—sebagian besar berbahan beling.

Dengan sadis, Chisa dijatuhkan ke dalam lubang sedalam dua belas meter itu. Langkah Bunda enteng meninggalkannya yang masih bernyawa.

***

Ditemani semilir, sosok itu bersandar pada sebatang pohon. Gemerincing pelan terdengar. Ia membuka mata, menatap sehelai daun yang mendarat anggun di telapak tangan. Di sana tertulis sebuah nama. Milik seseorang yang telah ia pantau beberapa hari terakhir, lengkap dengan lokasi keberadaannya.

Senyumnya merekah. Ia bangkit dan merentangkan sayap, lantas terbang melaksanakan tugas.

***

Chisa mendongak mendengar suara menyapa. Susah payah menggerakkan kepala demi melihat siapa di atas sana.

“Kamu tidak apa?” bariton Ian menggema lebih keras. Kepalanya makin terjulur. Di dasar, gelengan lemah tampak samar.

“Bertahan!” seru Ian. “Aku akan turun.”

Entah memakai cara apa, Ian berada di hadapan Chisa dalam waktu singkat. Membantu duduk.

Kondisi Chisa payah. Darah dari kepala masih mengalir melintasi lebam biru. Ditambah luka baru akibat pecahan di dalam sumur. Ian melepas tali yang membelit, lantas mendekap. Chisa balas memeluk erat.

Setelahnya, tangis mengiringi cerita panjang anak perempuan itu. Ian saksama mendengarkan, tanpa sedikit pun memotong. Merasa cukup, ia bertanya pelan, “Sekarang, apa yang kamu rasakan?”

Terucap ungkapan persis dengan yang diabaikan Bunda. Capek. Mau tidur.

“Kamu kuat,” ucap Ian, mengembuskan napas. “Beberapa orang memilih mati keliru, padahal tidak mendapat cobaan seberat kamu. Aku paham di sini tempatnya lelah. Terima kasih telah bertahan, tabah menghadapi kekejaman dunia. Selamat. Kamu berhasil melewati rintangan.

“Sesuai janji. Setelah Bunda berhenti marah, ayo pergi ke tempat indah.”

Tidak peduli Chisa paham atau tidak, Ian berdiri. Fisiknya berubah sedetik kemudian. Bukan lagi remaja laki-laki yang dikenal, melainkan sosok dengan perawakan jangkung berbalut jubah, bersinar, disertai sepasang sayap terbentang. Ia mendongak dan berkata halus, “Tersenyumlah, Chisa. Di balik awan kelabu, langit biru sedang menantimu.”

Detik tangan mereka bertemu, perih di sekujur tubuh mungil itu lenyap seketika. Tanpa sisa.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar




search

New Post