Starlet blue

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Will Always be With You

Situasi di darat berbanding terbalik dengan langit cerah. Peluru mendesing, gema reruntuhan terdengar setelah hantaman roket. Debu beterbangan, membaur dengan kepul asap. Sirine menggaung. Tangis pecah. Kesimpulan yang dapat ditarik : perang sedang berkecamuk.

Beberapa korban baru saja tiba di tenda darurat kami. Sebagian tewas, sebagian terluka. Aku berlari kecil membawa kotak medis. Cekatan melayani pasien di sana-sini, membebat luka, mengompres lebam, meneteskan obat merah pada cedera ringan. Fokus dengan tugasku. Sampai suara percakapan mengusik pendengaran.

“Korban semakin bertambah. Sedangkan persediaan medis di sini kurang memadai. Kita perlu pasokan.”

“Kira-kira berapa lama kita bisa bertahan?”

“Paling tidak seminggu ke depan. Itu maksimal.”

Sejenak aku memperhatikan. Kak Ali—salah satu relawan Indonesia— mengembuskan napas, terdengar resah. Kembali pada pasienku.

“Keputusan ada di tanganmu, Ali.” Ucap si lawan bicara. “Mayoritas korban adalah anak-anak. Mereka berhak mendapatkan yang terbaik.”

“Baiklah. Akan kudiskusikan dengan Maryam. Allah pasti beri jalan keluar.”

***

“Kita tidak bisa menghubungi pihak mana pun. Para Zionis memblokir sinyal komunikasi. Satu-satunya cara adalah pergi ke pusat medis terdekat.”

Ali berpikir sejenak. “Kirim relawan ke Rumah Sakit Indonesia.”

“Itu terlalu jauh,” tukas Maryam.

“Justru sebaliknya. Berdasarkan laporan, Rumah Sakit Daerah berhenti beroperasi akibat bombardir tempo hari.”

“Risikonya besar, Kak. Lagi pula, kita masih membutuhkan relawan senior di sini.”

“Bagaimana dengan cadangan? Kurasa kita bisa mengirim beberapa.”

Kadar panik pada wajah Maryam tampak meningkat. “Mereka masih remaja! Terlalu berbahaya.”

“Misi ini sebatas meminta bantuan dari Pusat. Usia mereka memadai. Untuk berjaga-jaga, aku dan salah satu rekan akan ikut serta. Tidak perlu banyak, cukup tiga orang. Bismillah… kuusahakan mereka aman.”

Maryam terdiam. Ia ragu, namun perkataan Ali ada benarnya. Wanita itu menghela napas, lalu mengangguk. “Baiklah. Akan kupilih tiga cadangan terbaik.”

***

Kak Ali menatapku, Ayse, dan Syakira bergantian. “Semua utusan sudah siap?”

Kami serempak mengangguk. “Siap, Kak!”

“Bagaimana dengan kendaraan, Sa’id?” Lelaki yang dimaksud mengangkat jempol. “Seperti yang diminta.”

“Perjalanan ini tidak akan mudah.” Ucap Kak Ali. “Kita tidak tahu ada rintangan macam apa di depan sana. Tetap waspada. Ingat, Allah bersama kita.”

Usai pidato singkat, kami berlima memulai perjalanan.

***

Lima belas menit pertama, terasa normal—meski beberapa kali deru rudal terdengar. Tidak ada serangan, juga hambatan berarti. Puing reruntuhan menghias jalanan. Kuukir senyum miris. Mendadak kendaraan kami berhenti.

“Ada apa?” tanya Syakira.

“Kita dapat sesuatu.” Sahut Kak Ali. “Lihat ke depan.”

Dari kejauhan, terlihat beberapa tentara—yang bukanlah tentara Hamas—mencegat setiap kendaraan yang hendak melintas.

“Bagaimana ini?” tanya Kak Sa’id.

Kak Ali berpikir sejenak. “Kita berhenti di tepi jalan saja.”

“Baiklah.”

***

Mobil ditepikan. Mereka keluar lalu berjalan kaki diam-diam.

Tetiba terdengar seruan, “HEY, SIAPA KALIAN?”

Mereka terdiam. Tentara Zionis mendatangi mereka dengan membawa senapan.

“Siapa kalian?” ulangnya.

“Kami adalah relawan.” Jawab Ali. Melirik pos Hamas tak jauh dari sana, Ali memerintahkan Sa’id, Ayse, Asiyah, dan Syakira untuk lari. Mereka berlari secepat mungkin. Mendekati anggota pasukan yang sedang berjaga.

Ali melambaikan tangan. “Zaid!”

Orang yang dipanggil Zaid menoleh. Tentara Zionis tidak tinggal diam. Mempersiapkan senjata, lantas menembak salah seorang utusan. Suara senapan terdengar jelas. Mengenai sasaran. Asiyah berbalik badan.

“Syakira!”

Darah tumpah. Zaid yang berada di luar pos memanggil para rekannya.

“Awas!”

Sa’id tertembak.

“K-kak Sa’id....”

Ayse terduduk lemas. Salah satu tentara meneropong senapannya. Sadar akan hal itu, Asiyah mendorong tubuh sang adik.

Peluru mengenai perut Asiyah. Ia terjatuh. Ayse berseru, lantas mendekati kakaknya yang terkapar tak berdaya.

Menatap Ayse, Asiyah tersenyum. “Ayse, tetaplah berjalan dengan kuat meski aku tiada, ya.”

Ayse menyanggah, “Kakak jangan bicara begitu! Aku tidak mau Kakak pergi. Hanya Kakak yang aku punya saat ini.”

Asiyah menggeleng pelan. “Tidak, Ayse. Kamu punya Allah. Dia tidak akan membiarkanmu sendirian. Aku percaya kamu kuat, lebih kuat dariku. Jangan putus asa. Ingat pesanku, Allah akan selalu bersamamu.”

Di pangkuan Ayse, Asiyah menutup mata, mengembuskan napas terakhir. Pergi dengan senyum terukir. Ayse menangis memeluk tubuh kakaknya.

Sementara Ali? Lelaki itu terdiam. Meski tentara Zionis yang sempat mengahambat telah tumbang, ia tertunduk. Merasa bersalah. Gagal menepati perkataannya pada Maryam.

“Innalillahi wa inna ilaihi raaji’un.... Semoga kalian dinilai sebagai syuhada.”

***

Beberapa hari setelahnya. Usai melaksanakan tahajjud, Ayse menatap langit-langit tenda.

“Misi kita sukses, Kak.” Ucapnya, tersenyum. “Pusat mengirim bala bantuan, pasien terobati dan anak-anak mendapatkan pengobatan yang layak. Terima kasih telah mengorbankan diri untukku. Semoga Kakak bahagia di tempat baru.”

Perlahan air mata membasahi pipi. Ayse yang tersadar menghapusnya, lalu tersenyum. Dan segera bangkit untuk merapikan alat shalatnya.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar

Hamasah, ganbare!

26 Feb
Balas

iya makasih

26 Feb



search

New Post