Naisha

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Perjuangan Feira | Bab 4: Nayra Pintar?!
Thumbnail>

Perjuangan Feira | Bab 4: Nayra Pintar?!

Hari ini adalah hari dimana Feira akan mengerjakan remedial ulangan harian matematika. Kemarin ia sudah belajar seharian di rumah.

“Kriiiiiing!” Bel istirahat berdering, menandakan waktu istirahat tiba.

“Yeeeey!!” Teriak seluruh murid kelas 4 girang.

Semua murid berlarian ke luar kelas untuk menikmati jam istirahat. Ada yang ke kantin, ke lapangan, dll. Kecuali Feira, ia tetap di kelas untuk mengerjakan remedial matematika. Hufft.. Untung saja aku sudah belajar seharian kemarin, jadi lebih mudah mengerjakannya. Gumam Feira dalam hati. Setelah semua soal sudah terjawab, Feira kembali memeriksa kertas ulangan itu beberapa kali.

“Ini bu, sudah selesai,” Kata Feira di meja guru.

“Baik. Sekarang kamu boleh istirahat.” Jawab Bu Rini.

“Ok bu..” Ujar Feira meninggalkan meja guru.

Feira berjalan keluar kelas dan berlari menuruni tangga. Jangan ditiru ya! Berbahaya! Nanti bisa jatuh… Feira melihat Salwa yang terlihat kesepian di kantin. Makan sendirian, Feira bergegas berlari menuju Salwa.

“Dor!” Feira mengagetkan Salwa.

“Ish! Bikin kaget aja, Ra!” Kata Salwa.

“Canda Ca, bentar ya! Aku mau beli makanan dulu. Nanti aku balik lagi kok, masa nggak.” Ujar Feira.

“Iya…” Jawab Salwa.

Feira pun membeli makanan yaitu bakso + lemon tea dingin, kesukaan Feira tuh! Setelah itu, Feira kembali ke tempat Salwa untuk makan bersama Salwa. Selesai makan, Feira dan Salwa pergi ke perpustakaan dan membaca buku. Lalu mereka meminjam buku untuk dibaca di rumah. Tak berapa lama kemudian, bel masuk pun tiba, semua murid masuk ke kelas masing-masing. Murid kelas empat mempersiapkan buku paket matematika dan buku tulis matematika.

“Pelajaran paling mengerikan dan mematikan sepanjang masa telah tiba, namanya juga mateMATIka, hahaha,” Canda Feira kepada Salwa sambil mengambil buku paket matematika.

“Bisa aja kamu, Ra!” Jawab Salwa sehabis tertawa.

“Hehe…” Jawab Feira, “Eh shhttt! Bu Rini dan Bu Lila udah masuk tuh!”

Bu Rini dan Bu Lila masuk ke dalam kelas. Bu Rini mengambil spidol papan tulis dan memulai pelajaran ketiga hari ini, matematika. Bu Rini menyuruh murid kelas 4 membuka buku paket matematika halaman 87. Bu Rini menerangkan pelajaran yang menurut Feira sangat membosankan, saaaaaaangat membosankan. 40 menit pun berlalu. Bu Rini menuliskan soal yang nanti ketika ada yang bisa menjawab boleh ke depan untuk menjawab soal tersebut.

“Siapa yang bisa menjawab ini?” Tanya Bu Rini.

Satu kelas pun hening, hampir tak ada suara disana, hanya suara-suara kecil dari kelas sebelah. Tak sampai dua menit, tiba-tiba ada yang menjawab.

“Aku bu!” Jawab Nayra.

Semua murid menoleh ke Nayra. Bu Rini pun ikut menoleh. Begitupun Bu Lila yang sedang duduk di dekat meja guru.

“Silahkan Nayra…” Jawab Bu Rini kembali.

Nayra pun maju ke depan papan tulis dan menulis jawaban tersebut di papan tulis menggunakan spidol dengan penuh percaya diri.

“Sudah bu,” Kata Nayra.

“Baik terimakasih Nayra, betul jawabannya! Sekarang kembali duduk di bangkumu ya.” jawab Bu Rini tersenyum.

“Ok bu.” Jawab Nayra tersenyum kembali seraya berjalan ke bangkunya.

Bu Rini memberikan soal berikutnya, kini, Aulia lah yang menjawab. Soal berikutnya, Nayra kembali yang menjawab, bahkan, sampai soal terakhir!

Soal terakhir telah terjawab oleh Nayra. Lalu Nayra pun diberi poin tambahan oleh Bu Rini. Melihat itu, Aulia merasa sedikit iri karena biasanya ialah yang mendapatkan poin tambahan tersebut. Lalu Nayra kembali ke bangkunya dan kembali menyimak pelajaran. Nana, teman sebangkunya, memberikan tepuk tangan kepada Nayra. Bu Rini pun kembali menjelaskan pelajaran tersebut. Di Akhir pelajaran, Bu Rini memberitahu bahwa nanti setiap harinya sebelum pulang sekolah akan ada latihan soal matematika, karena nilai matematika murid kelas 4 semester dua ini menurun drastis, entah mengapa.

Feira yang tadinya mendengarkan pelajaran dengan serius tiba-tiba teringat akan Jasmine yang menjadi teman rahasianya. Ia memikirkan akan memberikan apa nanti kepada Jasmine. Tentunya ia masih belum tahu.

Tak berapa lama kemudian, pelajaran pun selesai. Adzan Zhuhur pun berkumandang. Feira dan teman-teman berlarian keluar kelas menuju tempat untuk berwudhu yang terletak di lantai dasar. Yang disana juga terletak kamar mandi. Setelah berwudhu, Feira, Salwa, Aulia, Nayra, Aisyah, Nana, dan teman-teman perempuannya yang lain kembali ke kelas mereka untuk mengambil mukena di loker mereka. Lalu menuruni tangga dan berjalan menuju masjid sekolah, yang jaraknya tak terlalu jauh dari gedung yang ditempati oleh kelas 4. Saat berjalan menuju masjid, mereka berjalan sambil mengobrol bersama.

“Nay! Ternyata kamu pintar banget! Itu aja soalnya susah menurutku,” Pinta Laila.

“Hehe makasih…”

“Sama-sama.”

Mereka pun sampai di masjid sekolah. Mereka memakai mukena dan melaksanakan shalat sunnah. Beberapa saat kemudian, shalat Dzuhur berjamaah pun dilaksanakan. Singkat cerita Feira dan teman-temannya sudah selesai shalat dan berdoa, dan seuruh murid di sekolah itu pun memakan makan siang yang sudah dibawa dari rumah masing-masing. Seluruh sekolah pun hening, hampir tak ada suara disana. Ada suara pun itu sedikit sekali. 30 menit pun berlalu, sudah ada murid yang selesai makan dan mencuci piring mereka di tempat cuci piring. Termasuk Feira dan teman-temannya.

Selagi menunggu pelajaran berikutnya, Feira dan teman-temannya mengobrol bersama. Sekarang sudah pukul 13.05, pelajaran sudah dimulai. Pelajaran keempat hari ini adalah Bahasa Indonesia. Satu jam berlalu dan kini sudah pukul 13.55, artinya sebentar lagi pulang sekolah pun tiba. Feira sudah membereskan tasnya, dan duduk rapih di bangkunya, begitupun Salwa. Mereka sudah siap untuk berdoa lalu pulang. Padahal tadi kata Bu Rini setiap pulang sekolah akan ada latihan soal kecil-kecilan matematika, tapi mereka melupakan hal itu. Mereka bersikap bahwa tak ada hal yang mereka lupakan.

Bu Rini berdiri dari kursi, lalu berjalan sambil membawa spidol dan juga buku tulis yang berisi soal matematika. Lalu, Bu Rini mulai menulis soal matematika di papan tulis.

“Bu Rini, bukannya pelajaran matematika sudah ya tadi pagi? Kan kita sudah mau pulang, kok belajar lagi?” Tanya Jasmine.

“Lho? Kalian lupa ucapan ibu? Kan tadi kata ibu setiap pulang sekolah akan diberi latihan soal matematika, kalian tidak ingat ya?” Jawab Bu Rini.

“Oh iya ya bu, kami lupa..” Jawab Jasmine kembali.

Feira yang sudah senang karena sudah waktunya pulang, langsung kaget mendengar itu. Mengapa ia bisa lupa? Padahal ia bukanlah seorang yang mudah lupa.

Seluruh murid tak ada yang mengingat ucapan Bu Rini tadi pagi. Lalu mereka semua mengeluarkan buku tulis matematika dan juga alat tulis. Bu Rini menuliskan lima soal matematika di papan tulis. Seluruh urid kelas 4 pun mengerjakan soal matematika tersebut.

_________

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar




search

New Post