M. Fayyadh W.R.

Hai saya adalah penulis junior dari MTsN 1 Jember! Harap kamu suka dengan karya saya!!...

Selengkapnya
Navigasi Web
Amirul Hakim 'Anak Yang Hebat' BAGIAN 2
Amirul Hakim "Anak Yang Hebat" BAGIAN 2

Amirul Hakim 'Anak Yang Hebat' BAGIAN 2

Cuplikan Bagian 1 :

Sesuai permintaan Ayah Albab, Albab memberi nama anaknya Amirul Hakim, Artinya adalah Pemimpin yang Bijaksana. Namun aneh, Amir tidak pernah berhenti menangis dari ia dilahirkan sampai berumur 3 bulan. Ia hanya berhenti menangis ketika tidur, setelah bangun, dia akan menangis lagi sejadi-jadinya.

AMIRUL HAKIM (BAGIAN 2)

Albab telah mencoba banyak dokter dari negerinya, ia sangat berusaha keras untuk mencari dokter yang bisa membuat Amir berhenti menangis. Sehingga pada suatu malam, tiba-tiba Amir berhenti menangis. Albab, Safiyyah, dan Ibunya bingung dengan apa yang telah terjadi.

Keesokan harinya Albab teringat akan gua didekat tempat kerjanya, sehingga ia membawa Amir pergi bersamanya menuju gua itu. Didalam ia kembali berjumpa dengan sang penjaga gua, lalu sang penjaga berkata “Apa lagi yang engkau inginkan wahai Albab!” lalu Albab menjawab “Aku datang kemari dengan membawa Amir, apakah harta itu akan menjadi milik keluargaku?” seketika itu juga pandangan Albab menggelap, ia memegang Amir lebih erat. Sang penjaga tertawa ngeri lalu berkata “Akhirnya! Inilah saat yang aku tunggu-tunggu! Tentu saja harta itu akan menjadi milik keluargamu. Tapi ingat, jika bulan purnama, engkau harus membawa Amir kemari agar anakku bisa bermain dengannya!!” Albab bingung lalu berkata “Dimanakah anakmu sekarang wahai penjaga gua?” dan penjaga menjawab “Itulah dia. Ha.. Ha.. Ha...!” Harta itu muncul didepan Albab setelah pandangannya kembali terang. Dan penjaga berkata lagi “Ingatlah pesanku! Mulai hari ini panggil aku Haris Al-Kahf! Ha.. Ha.. Ha..!!”

Dua jam kemudian, Albab pulang kerumahnya dan menceritakan semua yang telah terjadi kepada istrinya. Safiyyah seakan tidak percaya meminta bukti harta itu, lalu Albab mengeluarkan 50 kantong emas yang disimpan didalam tas yang ia bawa. Tiap 1 kantong emas berisi 100 koin emas dan nilainya bisa mencapai 1000 dinar waktu itu. Safiyyah terkejut bukan main, dia sangat bersyukur akan hal itu, demikian pula Albab, dia tidak menyangka bahwa anaknya yang sebelumnya dianggap pengganggu karena selalu menangis sekarang adalah penyebab dirinya menjadi kaya dalam sekejap. Albab merenovasi rumah tuanya menjadi sangat bagus, Ia membeli perabotan-perabotan yang sangat mewah dan membelikan istrinya banyak perhiasan yang sangat mahal.

Albab merasa sangat bahagia, sedangkan disisi lain. Ahmad dan Zulkifli sudah tidak memiliki harta apapun yang bisa mereka jual. Mereka hendak mencuri sebuah toko emas dam berlian di kota malam itu. Tepat pukul 9 malam, mereka berkumpul menyusun rencana. Ahmad dan Zulkifli akan menyabotase kelistrikan saat semua karyawan sudah pulang 30 menit lagi.

Aksi mereka pun dilancarkan, mereka berhasil mendapatkan banyak perhiasan, uang emas, dan berlian. Mereka pulang dan memberikan hasil curian itu kepada istri-istri mereka. Tapi ketika ditanya mereka mendapatkan semua itu dari mana, mereka berbohong dengan mengatakan bahwa bisnis mereka sedang bagus dan mereka mendapat banyak keuntungan darinya. Besoknya mereka membeli rumah baru dengan perabotannya. Tapi walaupun terlihat bahagia, dalam diri mereka berdua terdapat satu rasa gelisah, takut, yang menghantui diri mereka sejak hari itu. Ahmad selalu bersembunyi ketika ada orang datang, tidak peduli siapa dia walaupun bukan polisi sekalipun. Zulkifli selalu mengunci pintu rumah dan selalu berjaga-jaga seperti akan ada yang datang.

Disisi lain, pemilik toko emas dan berlian hendak membuat laporan kepada polisi karena ia mengalami banyak kerugian akibat tokonya dibobol dan sebagian dagangannya dicuri. Polisi menanyakan identitas pemilik toko, ia adalah Rayhan Al-Tajir, saudagar berlia dan emas dari Syria. Lalu ketika laporan sudah selesai, polisi bergegas menuju TKP untuk mengumpulkan bukti. Ditemukan banyak sidik jari, dan setelah penelitian, rupanya sidik jari itu adalah milik Ahmad dan Zulkifli.

2 hari setelahnya, polisi mendapatkan alamat rumah kedua orang itu. Polisi itupun mengerahkan 2 pasukan untuk menangkap Ahmad dan Zulkifli. Ketika polisi-polisi itu sampai kerumah Ahmad, mereka langsung mendobrak pintu dan menangkap Ahmad yang sedang tidur. Ahmad kaget dan bingung. Setelah sadar dengan apa yang terjadi, dia menangis minta dilepaskan, namun bagai kata pepatah, “Nasi sudah menjadi bubur.” Ahmad pun dibawa ke kantor polisi untuk diinvestigasi lebih lanjut

Dikediaman Zulkifli, pasukan polisi juga sudah sampai disana. Mereka mendobrak pintu, namun pintu itu dikunci, jadi mereka merusakkan pintu kayu itu dan membobol masuk. Zulkifli sudah bersiap disana memegang senjata dan mengancam polisi. Namun ia tidak tahu bahwa ada polisi yang membobol masuk lewat atap rumahnya. Sehingga ketika semuanya hening, polisi yang diatas itu membobol plafon dan segera menangkap Zulkifli yang masih memegang senjatanya. Dia pun dibawa menuju kantor polisi. Bersambung Lagi…

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar




search

New Post