James Pamara

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

BAB 3 - Berawal Dari Persahabatan

BAB 3 Perpisahan Akan Terjadi

Jenjang SMP telah usai, waktunya untuk memasuki jenjang yang lebih tinggi, yaitu SMA. Keempat sahabat ini meraskan kesedihan yang mendalam. Mereka bersahabatan begitu erat dan sudah mengenal dari kecil. Semua kegiatan dilakukan bersama – sama, suka dan duka harus mereka lewati selama ini. Dari masa kecil sampai sekarang tak ada yang bisa memisahkan tali persahabatan ini.

Waktu normal untuk sekolah kurang dari 14 hari. Pada sore ini, mereka berempat berencana berkumpul di suatu pondok dekat lapangan sepak bola. Awalnya yang datang hanya ada Betty dan Rudi.

“Kayaknya ada yang kurang nihh di..” Tanya Betty sambil menyolek Rudi

“Minuman? Kan ini sudah ada. Makanan? Ini juga udah kita beli tadi di warung pak otong.” Rudi sambil mencicipi jajanannya

“Yaelahh emangnya masa lu gak ngerasain ada yang kurang.” Jawab Betty.

“Emangnya apaansih? Jangan gak jelas lagi lu” Rudi kesal dan penasaran.

“Nihhh di.. coba lu hitung, di tempat ini ada berapa orang?” Betty memberi kode.

“Kita berdua doang. Emang kenapa dah?” Rudi semakin penasaran.

“Haduuhh rudi.. masih aja belum tau. Biasanya kita kan berempat.” Betty mulai kesal.

“Ohhhhh iyaa,,, bener juga. Mana Harris dan Olivia ya? si calon pengantin yang akan datang.”

“ishhh bisa aja lu, hahaha.... mana mungkin sahabat jadi nikah.” Betty tertawa

“Eitss mungkin aja bisa terjadi. Habisnya mereka serasi banget.” Pengakuan Rudi

“Iya sihh.. bener juga. Coba lu telepon mereka berdua dehh..”

“Oke oke, sebentar. Setelah habis semuanya ini” Rudi mengunyah makanan.

“Ett iya tambah gendut lohh..” candaan Betty yang biasa mereka lakukan.

Cemilan yang dimakan Rudi sudah habis.

“Dah kan tuh habis makanannya, cepet telepon mereka. Soalnya ada yang gue bicarain hal penting.” Ujar Betty.

“Iya iya sebentar. Ada apa tuhh? Rudi bertanya penasaran.

“Udehh nanti aja kalau mereka datang, kita bicarain.’

Rudi langsung menelepon Olivia mengabari kalau dia sama Betty ada di pondok dekat lapangan.

“Halo liv”

“Iya ada apa di?”

“Lu lagi dimana?

“Di rumah nihh, emang kenapa?”

“Lagi sibuk gak? bisa ke pondok dekat lapangan gak, sekarang?”

“Ohhh bisa – bisa di, tapi sebentar yahh... mau bantuin mama bikin kue dulu. Mungkin 20 menit.”

“Okee liv kita tunggu, disini ada Betty doang. Soalnya dia mau bicarain sesuatu yang penting kata dia. Oh ya lu bisa sekalian panggil Harris gak?”

“Ohh gitu, ya udah nanti gue panggil Harris sekalian”

“Okee liv, makasih ya!”

Menutup teleponnya.

Olivia membantu ibunya membuat kue untuk dibagikan ke tetangganya. Setelah itu, Olivia bergegas menuju lapangan. Sampai ditengah perjalanan tertanyata ada yang kelupaan. “Oh iya lupa panggil Harris, aduuhh kok bisa lupa ya sama dia?” dalam hatinya berbicara. Olivia langsung memutar arah dan memanggil Harris di rumahnya.

“Harris .... riss....!!!” Olivia memanggil dari luar rumah Harris

Sudah tiga kali Olivia memanggil, tapi tidak ada jawaban. Keempat kalinya terdengar suara pintu terbuka. Olivia ketakutan, karena seperti misterius dan di rumah Harris tampak sepi. Oliv

“Kreekkkk....” (suara pintu membuka perlahan)

“Siapa itu?!” Olivia ketakutan

Awalnya dikira Oliva hantu, ternyata ...

“Ada apa liv? Kok kamu ketakutan gitu sih?” Ibu Rita heran

“Aduuhh... Yaaa ampun tante, kirain saya hantu, soalnya rumah sepi. Saya panggil tidak ada jawaban, terus pintunya gerak sendiri.” Mengusap keringatnya Olivia

“Hehe maaf ya liv, Di rumah cuma ada Harris aja dan ayahnya lagi kerja. Kan pintu dibuka harus perlahan supaya tidak cepat rusak liv.” Penjelasan Ibu Rita.

“Iya tante. Saya sampe keringatan nihh hehe...” Ketakutan Olivia lebih reda

“Oh ya liv, masuk dulu sini. Nanti tante sediakan minum biar rasa ketakutamu berkurang.”

“Iya tante, terima kasih.”

Olivia membuka pagar rumah Harris, dan duduk di dalam teras Harris.

“Ada apa liv kamu panggil Harris?”

“Ini loh tante, Rudi sama Betty sudah menunggu di pondok dekat lapangan. Mereka mau ngomongin sesuatu penting.”

“Ohh begitu.. Harris lagi mandi Liv. Dari pagi, siang bolong sampe sore ini , dia belum mandi.”

“Hemmm... kebiasaan belum mandi” terucap dalam hati Olivia.

“ Memangnya mau ngomongin apa sih liv?” Ibu Rita penasaran

“Gini lohh tante...” Olvia mengatakan perlahan. Dia juga tidak tahu apa yang mau dikatakan.

“Tunggu disini sebentar ya liv, saya ambilkan minum dulu” Ibu Rita langsung ke dapur.

‘Fiuhhh...” Olivia menghembuskan nafas, soalnya tidak tahu mau ngomong apa.

Ibu Rita di dapur menyiapkan segelas air putih untuk Olivia. Ketika melewati kamar mandi

Bu Rita berteriak “Risss cepetan mandinya, Ada Olivia udah nungguin di teras tuh.”

“Iya bu sebentar lagi selesai. Bilangin olivia tunggu sebentar, bu.” Membalas teriakan ibu nya dari dalam kamar mandi

Teriakan Harris terdengar sampai teras. Olivia pun mendengarnya dari luar rumah. Dia ketawa dan membalas teriakannya “Iyaa riss gue tungguin kok, cepetan ya. Jangan lupa yang bersih mandinya.”

“Haha maklumi ya liv, dia setiap hari seperti itu.” Ibu Rita tersipu malu.

“Iya bu, udah biasa menghadapi seperti itu bu hahaha” Ujar Olivia.

“Oh ya, silakan diminum liv. Tante mau ke dapur lagi ya, mau masak nihh.”

“Iya tante, terima kasih. Selamat memasak, nanti jangan lupa kirim ke rumah saya ya hehe...” Candaan Olivia.

“Haha bisa aja kamu, Iya nanti malam sudah ada di meja makan kalian.”

“Asik.. terima kasih tante”

“Iya liv, sama-sama. Tante ke dapur dulu ya” Ibu Rita kembali ke dapur.

Rudi menelepon Olivia lagi.

“ Halo Liv, lu dimana? Lama amat perasaan.”

“Iya halo Rudi. Gue sihh udah siap daritadi, ini nihh si Harris acara pake mandi dulu, terus lama lagi mandinya. Mungkin10 menitan lagi.”

“Cie – cie setia amat sampe nungguin, emang udah pasangan serasi dahh haha.... Okee dehh kita tunggu ya.”

“Kan namanya juga sahabat, ya harus gitu dong di.” Dalam benak Olivia tidak tahu mau berkata apa lagi. Dalam pikirannya sudah senang duluan.

“Bener juga ya.... oke deh sampai bertemu ya!” Rudi menutup teleponnya.

Harris selesai mandi dan langsung bergegas ke lapangan. Harris meminta izin padanya untuk keluar rumah dan Olivia berpamitan pada Ibu Rita.

Dalam perjalanan. Lagi, lagi dan lagi Olivia merasa senang karena bisa berjalan kaki hanya bersamanya, ingin mengatakan tapi masih sedikit ragu.

Harris bertanya “Emangnya ada apaan Liv?”

“hmmm.. gue juga gak tau. Tadi Rudi nelpon gue sampe 2x. Lu sih kelamaan mandinya.” Olivia sedikit kesal, kekesalan itu bisa teratasi karena bisa jalan bareng.

Seketika dalam perjalanan tidak ada obrolan sama sekali. Olivia berpikir supaya mengatakannya itu, menurut Olivia waktunya sudah tepat untuk mengatakan.

“Riss.. Harris” Berbicara dengan suara perlahan dan lembut.

“Iya ada apa Liv?” Disambut Harris dengan suara pelan.

“Mana tau gak? Gue itu dari dulu....” jatung sudah mulai berdebar

Belum sempat mengatakannya, tetapi ...

“Ehh bentar dehh Liv, aku mau nelpon Rudi dulu. Kalau kita sudah mau nyampe di tujuan.” Harris memotong pembicaraan.

“Hmmm okelah gapapa.”

Kejadian ini terulang kembali seperti waktu itu. Kesempatan itu sirna.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar




search

New Post