Fatimah Aida

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Duduk Di Jendela, Dan Melihat Dunia. Bab 6 (Bag 4)

Duduk Di Jendela, Dan Melihat Dunia. Bab 6 (Bag 4)

Aku membaca pesan Nafisah lebih dulu. “Noora! Kabar buruk! Kia ada di grup kelas 5, baru saja di masukkan ke grup oleh Nasmah!” itu pesan dari Nafisah, bagaikan mimpi buruk! Setelah tahu sifat Kia, wajar saja banyak orang yang menjauhinya. Benar saja! Kia ada di grup itu, dan ia sudah membuat keributan. Begini pesan terakhirnya, “aku akan memberi kalian semua kejutan besok pagi,”..... hening.... tidak ada yang berkomentar. Mama mengajakku makan malam bersama, hingga keheningan di grup kami berlangsung hingga esok hari.

***

Pagi ini aku berangkat diantar Pak Sopir, Papa sedang di luar kota. Aku hanya berdua dirumah dengan Mama, (dengan semua yang dirumah pastinya). Saat aku masuk kelas, Nafisah sudah menarik tanganku sebelum aku meletakkan tas di lokerku. “Kamu baca grup kan semalam? Kejutan apa? Aku sudah waspada,” Nafisah memberi info secepat kilat, “aku juga tidak tahu,” aku menjawab santai. Kami masih ribut soal kejutan dari Kia, kata Nafisah, kejutan dari Kia selalu buruk. “Teeet! Teeet!” bel sekolah berbunyi, aku berlari ke kelas, sayang... karena aku masih menggunakan tas, Bu Nia mengira aku baru saja datang. Tapi tidak ada respon, Bu Aulia hanya mempersilahkanku dan Nafisah duduk.

“ Noora, Nafisah! Kalian berdua dipanggil Bu Aulia, Bu Aulia ada di ruang guru”, Syifa memberitahu kami, aku berjalan menuju ruang guru tanpa kecurigaan apapun. “tok tok tok! Assalamu’alaikum, permisi...” aku mengetuk pintu ruang guru, Bu Nia sendiri yang membukakan pintu. Bu Nia mempersilahkan kami masuk. “Ayo masuk! Kalian berdua duduk disini” Bu Nia mempersilahkan kami duduk di dua kursi yang tidak dipakai.

Tanpa tedeng aling aling Bu Nia langsung mengomeli kami tanpa ampun. “Kalian kenapa terlambat masuk? Jelas jelas kalian sudah ada disekolah kan? Kenapa masih telat! Kalian ini ya! Bla bla bla bla...” huh! Mana kami tau kalau kami tetap diomeli? Mengejutkan. Aku dan sahabatku hanya menunduk, sesekali mengangguk jika ditanya, hingga akhirnya kami lepas dari omelan Bu Nia. “Huh! Telingaku terasa hampir pecah diomeli Bu Nia!” aku mengomel panjang, “memang nasib...” Nafisah juga mengomel walau tak sebanyak aku. sebenarnya tidak separah itu, karena kami kesal jadi dilebih lebihkan. Siapa sih yag suka dimarahi? Tidak ada kan? Atau mungkin ada? Entahlah.

Saat sedang kesal kesalnya, Kia malah mebuat kami makin kesal. Saat itu kami sedang berjalan menuju kelas, tiba tiba ia datang dengan dua anak kemarin. “Hei! Kalian dimarahi Bu Guru ya? Anak nakal seperti kalian memang wajar dimarahi, kenapa....” “sudah kubilang namaku Noora! Bukan ‘hei’! anak sombong!” aku tak kalah menjawab kata kata pedas Kia. “Aku belum selesai ngomong!” Kia bersuara, “siapa peduli!” aku melanjutkan. “Huh! Bicara dengan orang yang tidak selevel memang tidak nyaman,” arghh! Aku tidak tahan! Memang sangat menyebalkan!

“Tadi kamu bicara kasar sekali,” setelah pertengkaran itu, Nafisah pelan pelan menasihatiku tentang ‘kata kata’ yang tadi ku lontarkan. “Aku tidak tahan Naf,” pelan pelan aku menyadari kata kataku tadi sungguh tidak baik, tidak membiarkan orang lain berbicara. Tetapi, aku benar benar... kesal...

***

Aku melupakan kejadian itu, walau masih tetap terngiang ngiang dikepalaku. Hari ini, 17 agustus, hari kemerdekaan Indonesia. Dan hari ini pula, umurku 12 tahun, tidak ada yang spesial ketika aku berulang tahun. Aku memang tidak pernah merayakannya, aku lebih semangat untuk ikut lomba menulis cerpen dengan tema Merdekalah Indonesia. Tapi aku juga tak lupa lomba makan kerupuk, lumayan bisa untuk camilan ketika lelah berlomba.

Hari ini, ada upacara 17 agustus disekolahku, lomba menulis cerpen yang mengadakan juga sekolahku. Dan... tentu saja bazarnya juga ada di sekolah, aku berangkat ke sekolah diantar Mama dan Papa. Mama ingin bertemu juga dengan wali murid lainnya, jadi kami sekeluarga pergi ke sekolah. Sepagi ini, memang jam berapa? 6.30, pagi sekali bukan? sudah banyak siswa yang datang disekolah. Dan... beberapa sudah mulai menjual minuman dan makanan, aku langsung membeli es teh jelly, segaar! “Hai yang baru datang sudah jajan, assalamu’alaikum!” seseorang menepuk pundakku, aku menoleh, “aku haus” ternyata Nafisah.

“Zea!” aku dan Nafisah kompak memanggil Zea yang sedang bersiap untuk pengibaran bendera nanti, ia memang menjadi pengibar bendera. “Assalamu’alaikum Naf, Ra,” sapanya, aku dan Nafisah menjawab salam nya. “Kepada seluruh siswa dan siswi kelas 3-6, silahkan berkumpul dilapangan!” pengumuman itu terdengar di seluruh sekolah, “kenapa sudah mulai sih? Aku kan belum selesai jajan,” keluh Nafisah. “Siapa suruh baru jajan sekarang? Cepatlah! Nanti kita ketinggalan,” aku menarik tangan Nafisah ke lapangan.

Seluruh siswa siswi kelas 3 -6 A, B, dan C berkumpul dilapangan, lapangan sekolah. Semua sudah siap, upacara dimulai, sekitar 35 menit, setelah petugas upacara mengatakan ‘bubar’ aku dan Nafisah langsung berlari menuju bazar, belum mengganti seragam kami. “Aku mau beli milk shake dulu ya,” kata Nafisah, “baiklah! Aku akan beli dimsum disana,” aku menunjuk sebuah tenda (untuk berjualan) dengan gerobak bertuliskan Dimsum.

Lalu sesi lomba dimulai, aku, Zea, dan Nafisah berlari menuju meja pendaftaran lomba makan kerupuk. Lalu kami segera mengikuti lomba itu, sayang... Fion anak laki laki yang sekelas dengan kami ikut lomba makan kerupuk, dia sangat suka makan, dan kalau makan cepat sekali. Benar saja, ia menang. “Kenapa kamu bisa makan secepat itu sih?” aku bertanya kesal, “suka makan ada gunanya kan?” katanya berusaha memberitahuku kejadian beberapa minggu lalu ketika aku bilang makan banyak tidak ada gunanya. Aku memasang wajah sebal. “Ini kan hanya lomba..” kata Fion sekali lagi sebelum aku pergi meninggalkannya.

Lagi lagi Kia mendatangi kami bertiga, kami sedang jajan. “Noora, Nafisah, Zea, maaf...” ‘ada apa ini?’ gumamku ketika mendengar kata ‘maaf dari Kia. “Aku hanya ingin berteman dengan kalian, tetapi... ketika aku berbicara baik baik kepada yang lain untuk mengajak berteman, mereka menolakku mentah mentah. Mengira aku hanya akan membuat masalah,” tentu saja kami memaafkannya, dan menerimanya sebagai teman kami atau bahkan sahabat.

Ternyata, ada orang yang mencari teman saja susah. Bersyukurlah jika kalian memiliki sahabat, dan tentu saja, aku sangat bersykur memiliki teman dan sahabat yang selalu menemaniku dikala senang dan susah.

Bersambung....

Assalamualaikum semua!

Pa kabar? semoga baik yaa!

Alhamdulillaah Bab 6 nya selesai.

Menurut kalian semakin kesini makin aneh ngg ceritanya?

Jawab di kolom komentar ya!

Dan ada sedikit perubahan nama tokoh, maaf ya.

Bu Aulianya jadi Bu Ina.

Jangan lupa follow akunku.

Bye! Assalamu'alaikum!

Salam: Fatimah Aida

*maaf banyak typo

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar

Seruuuuu

15 Jan
Balas

Makasih caesaa :)

16 Jan

Masama

16 Jan

:)

16 Jan



search

New Post