Delita puji carlowati

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Impian Yang Tak Murah

Impian Yang Tak Murah

Apa yang kalian pikirkan ketika mendegar kata impian? Pasti semuanya akan berfikir tentang keinginan kita untuk menggapai atau memperoleh sesuatu. Impian pasti sudah ada didalam diri setiap orang. Impian bisa membuat kita merasa bersemangat, bahagia dan juga sedih, tergantung bagaimana kita mengolah impian itu. Kalau kita bersungguh-sungguh niscaya Allah akan memberikan petunjuk untuk segala impian yang kita miliki. Namun ketika kita tidak berusaha, pasrah, semuanya hanya tinggal omongan saja.

Semua orang juga punya impiannya masing-masing. Ada yang ingin menjadi tentara, guru, hafidz, dll. Dan semua itu pasti perlu usaha yang keras dengan diiringi doa. Kalo ditanya kamu cita-citanya apa? Cita-citaku sebenarnya banyak si, tapi ada cita-cita yang selama ini aku impikan. Dan menuju cita-cita itu aku punya cerita yang unik untuk diceritakan.

Aku, adalah anak yang terlahir di dalam Keluarga yang kehidupannya sederhana, gak kurang dan gak lebih. Apa lagi, sejak kecil aku sudah menderita banyak penyakit yang pasti butuh biaya tinggi. Rasanya seperti muak menghabiskan masa kecil dengan obat-obatan dan rumah sakit. Aku selalu berharap akan datang waku aku bisa sembuh total, dan ya alhamdulillah terkabulkan. Saat kelas 3 sekolah dasar aku sudah dinyatakan sembuh total dari penyakitku, yang pasti dengan biaya yang enggak murah.

Sejak saat itulah impianku dimulai. Aku bermimpi ingin menjadi dokter yang bisa menyembuhkan banyak orang. Aku ingin menjadi dokter untuk membuktikan bahwa lahir di keluarga sepertiku bukanlah halangan. Tak hanya itu Aku juga ingin membalas budi orang tuaku dengan meneruskan cita-cita mama yang tertunda karena kendala biaya. Ya, cita-cita mama itu " Dokter ", meski terlihat mustahil bagi aku yang ekonominya seperti ini, sampai sekarang aku masi belum ada rasa ingin menyerah. Aku terus berusaha untuk meningkatkan ilmuku.

Ayah juga gak pernah nyerah buat mencukupi kebutuhan keluarganya. Gak jarang juga si, mama ngeluh kalo uangnya nge pas buat bayar spp dan makan sehari-hari. Namun, mama gak pernah ngeluh di depanku, orang tuaku selalu nyembunyiin semua sendiri. Mama juga enggak pernah protes atas hasil belajarku katanya " Semua orang punya kelebihannya masing-masing, zaman sekarang angka kadang gak menentukan segalanya ". Mama gak pernah maksa aku buat ngejar nilai terlalu keras, kalau kata orang si " Orang tua bijak ". Tapi, dibalik semua cerita itu, bohong kalau aku gak ada rasa ingin memberikan usaha maksimal, aku terus-terusan ingin memberikan usaha yang terbaik.

Aku juga tak pernah menyesal telah lahir dalam keluarga seperti ini, justru karena aku lahir di keluarga seperti ini aku bisa belajar mandiri. Seperti saat mama sibuk dengan adikku dan gak memungkinkan buat aku menambah kelas belajar, disaat itulah juga aku melatih diriku untuk belajar sendiri. Sehingga aku terbiasa tuk tidak mengandalkan orang lain. Metode itu juga yang membuat aku merasa lebih bisa memahami materi dengan baik dan belajarku juga terasa lebih berharga. Mungkin saat ini memang aku tak bisa menjadi yang terbaik dari yang paling baik, dan aku pun tidak ada jaminan untuk bisa masuk dunia kedokteran. Namun, aku tetap yakin bahwa aku bisa menjadi dokter. Karena cita-citaku bukan hanya untuk membalas budi, tapi karena aku sangat ingin menolong orang seperti dokter yang telah mengobatiku dulu. Aku optimis, kalau Allah dengar apa yang aku minta, Allah juga pasti melihat semua usaha yang aku lakukan selama ini.

Berada di kelas pdci ( peserta didik cerdas istimewa ), juga salah satu rahmat Allah yang bisa membuatku mempersingkat waktuku di Sekolah Menengah Pertamaku. Sehingga, aku lebih banyak memiliki waktu di usia remaja untuk memikirkan impian dan cara mewujudkannya.

Makasih ayah dan mama yang selalu memberikan yang terbaik untukku. Aku ingin cerita ini dijadikan inspirasi bagi setiap pembacanya. Bahwa pada dasarnya lahir di keluarga sederhana bukan berarti kamu harus menyerah dalam neraih mimpi semuanya akan berakhir sesuai dengan usaha kita. Karena kita yang menanam kita juga yang memanennya. Baik atau pun buruk itu tergantung dari diri kita sendiri.

Jember, 11 januari 2022.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar




search

New Post