Kandela

don't copy my works. ...

Selengkapnya
Navigasi Web
MANA HADIAHKU?
https://knowyourmeme.com/memes/chopper-crying

MANA HADIAHKU?

“MAAAK KIKI BERANGKAT DULU YAAA”. Teriak si kecil Kiki kepada mamaknya. Wajah mamak yang gemas melihat Kiki mengangkat jari telunjuknya ke mulut, memberi peringatan agar mempelankan suara menggelegar Kiki. Kiki menutup mulutnya dengan kedua tangan mungilnya. Benar saja, sudah di peringati mamak berkali-kali agar tidak berisik pagi pagi menganggu tetangga. Kiki langsung sadar dan menutup mulut dengan kedua tangannya. Kiki menengok ke depan pintu berharap Pak Tur belum menyiram tanaman di halaman rumahnya. Matanya melihat ke arah rumah Pak Tur dan benar saja Pak Tur sudah memberikan tatapan tajam kepada Kiki. Kiki memantukkan kepalaknya sambil tersenyum lebar memperlihatkan gigi susu miliknya. Untung saja tak lama kemudian Pak Tur mengangguk, menerima permintaan maafk Kiki.

Kiki sangat bersemangat menjalani hari ini, meskipun tadi mendapat tatapan tajam Pak Tur. Bagaimana tidak, gigi kecil Kiki yang beberapa hari ini terus bergoyang tanda mau copot. Kiki sangat senang, karena itu pertanda Ia tumbuh satu langkah menjadi orang dewasa. Kiki tak sabar ingin segera menjadi salah satu bagian dari orang dewasa. Kiki berpikir orang dewasa itu sangat hebat, dapat membeli barang-barangnya sesuka hati tanpa seizin orang tua, tidak seperti Kiki. Orang dewasa yang bisa pergi kemana-mana sendirian, tidak seperti Kiki. Orang dewasa yang menghabiskan waktunya dengan bebas, tidak seperti Kiki. Sepanjang pelajaran di kelas, Kiki sibuk membayangkan dirinya menjadi orang dewasa yang hebat nan keren. Baguslah Kiki punya gambaran bagus menjadi orang dewasa. Biarkan ia berangan-angan, jangan beritahu yang sebenarnya seberapa sukarnya menjadi orang dewasa. Semoga ia bisa menjadi biasa dengan kehidupan sebagai orang dewasa nanti.

Pulang sekolah Kiki segera menuju ruang makan, tak menghiraukan sepatu dan kaos kakinya yang masih berantakan. Kiki lebih mementingkan kebutuhan perutnya lebih dari apapun sekarang ini, karena dari tadi saat pelajaran Matematika di siang hari menguras perutnya untuk berpikir menyelesaikan permasalahan angka-angka itu. Kiki sebal mengapa mereka selalu bermasalah, kan bisa dibicarakan baik-baik, tidak meminta orang lain menyelesaikan mereka mulu!. Padahal pelajaran matematika tepat sehabis istirahat makan siang. Sayangnya bekal yang dibuatkan mamaknya khusus untuk porsi Kiki, tidak cukup menampung perut Kiki yang besar nan bulat itu.

Saat waktu makan ayah Kiki berkata “Kiki gigimu goyangnya sudah parah, habis gini ayah cabut ya, susah makan kalau menunggu sampai copot sendiri giginya”. Kiki yang sedih tetapi juga setuju dengan ayah karena gigi depannya yang menggangu ia menggunyah makanan. Setelah Kiki berpikir lama, ia memutuskan untuk siap giginya dicabut oleh ayahnya. “tahan…yapp selesai”. “sudah yah?”. “iya ini giginya”. Kiki heran mengira cabut gigi itu sakit ternyata tidak sama sekali. Ia langsung meloncat kegirangan dan mencium gigi kecilnya itu. Kedua orang tua gigi hanya tersenyum melihat putrinya yang sekarang bogang (gigi bolong) itu. Tak menunggu lama, Kiki langsung pergi ke tempat tidur dan menaruh gigi di bawah bantalnya, untuk peri gigi.

Malamnya ia tidak bisa tidur, dan selalu mengecek apakah sudah tertata rapi gigi dan surat berisikan salam dan keinginanku kepada peri gigi. Kiki dengan percaya diri memilih dengan bijak apa yang ingin dia dapatkan dari peri gigi. Tak seperti anak-anak lain yang biasa menginginkan handphone atau mainan barbie, Ia menginginkan setiap ulangan sekolah yang Ia kerjakan mendapat nilai sempurna, dengan begitu Ia tidak perlu belajar lagi setiap pulang sekolah. Malam itu adalah malam terbaik yang Kiki punya.

Hari baru semangat baru, Kiki dengan sombongnya memakai tas sekolah dan memasukkan buku-buku pelajaran yang tidak Ia baca kemarin. Gigi dan surat yang kemarin Ia taruh di belakang bantal sudah hilang. Peri gigi mengabulkan permintaanku. Ia tak perlu repot berpikir pada ulangan matematika hari ini, musuh paling mematikan bagi Kiki. Tapi Ia dengan santainya berpamitan pada kedua orang tuanya, bilang bahwa tidak perlu khawatir dengan nilai ulangan Kiki lagi. Kedua orang tua Kiki hanya tersenyum melihat perilaku putri polosnya itu. Diluar rumah Pak Tur yang keheranan melihat Kiki yang tidak berisik seperti biasanya. Kiki menyapa Pak Tur sambil memperlihatkan gigi bogangnya. Pak Tur tersenyum melihatnya. “sudah besar ya Kiki, mantap” sambil memberikan jempol. Kiki yang malah tambah keheranan dan terkejut melihat Pak Tur yang tersenyum dan memuji Kiki. Ahh, Ia tidak bisa berpikir hal buruk apa yang mungkin terjadi hari ini.

Saat waktu ulangan matematika di sekolah, Kiki tidak tahu apa-apa, bahkan tidak paham apa yang harusnya Ia tulis dari angka yang herannya dibikin pusing. Ia santai menjawab soal-soal matematika, karena Ia tahu mulai sekarang ibu peri akan membantu dalam memperbaiki semua nilai ulangan sekolah Kiki.

Ternyata yang Kiki bayangkan salah. Nilai ulangan matematikanya sama sekali tidak berubah, tetap mendapat sesuai apa yang Kiki kerjakan kemarin. Matilah nanti jika ibu tahu. Kiki yang sangat mempercayai peri gigi karena pernah diceritakan oleh Ayahnya yang bilang akan mengabulkan apapun permintaan. Lalu mengapa permintaan Kiki tidak dikabulkan?

Pulangnya Kiki terlihat lesu dan tidak nafsu makan, meskipun ibu membuatkan es serut favoritnya. Melihat putrinya yang lesu, Ayah Kiki mulai bertanya. “Kiki kenapa lesu?, apakah gara-gara hasil ulangan matematika Kiki?” selidik Ayah. Kiki gemetar takut dengan reaksi kedua orang tuanya. “Kiki dapat nilai C di matematika…padahal kemain Kiki sudah meminta nilai bagus kepada peri gigi…”. Kedua orang tuanya tertawa kecil, pura-pura tidak tahu dengan apa yang terjadi. “Yah jelas tidak dikabulkan Kiki…peri gigi tidak suka anak yang curang, apalagi membuat peri gigi melakukan hal yang tidak baik, tentu saja pasti di tolak” Jawab ibunya lembut menenangkan. Kiki yang mendengarnya merasa sakit hati, apa yang sudah Kiki lakukan kepada peri gigi. Bagaimana jika peri gigi tidak mau mengabulkan permintaan-permintaan lain Kiki ketika giginya bolong lagi. Mulai saat itu Kiki berjanji akan terus belajar dan tidak akan mengulanginya lagi, berharap peri gigi akan memaafkan perbuatannya. Ibu dan ayahnya tersenyum bahagia melihat putrinya yang belajar dari kesalahannya.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar

Sudah baik. Mungkin diperbaiki ejaannya.

10 Jan
Balas



search

New Post