Ammarista D.A (a.k.a Orienelle)

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Youth Intel Patrol (Bab 5)

Youth Intel Patrol (Bab 5)

Fidel tiba di lokasi klub memanah pada pukul 07.39. Sepedanya sudah siap seperti sedia kala ketika dia datang ke bengkel. Di depan tempat klub, dia bertemu dengan Aquila yang juga baru datang, turun dari sebuah mobil.

“Eh, hai, Fidel! Sepedamu sudah diperbaiki?” sapa Aquila begitu dia melihat Fidel datang memperlambat laju sepedanya.

Fidel turun dari sepeda. “Halo, Aquila. Yap, akhirnya aku bisa menggunakan sepeda ini lagi.”

Aquila terkekeh pelan. “Ayo, masuk!” Fidel mengangguk.

Suasana masih sepi. Kegiatan baru dimulai pukul 08.00, baru sedikit anak yang datang. Fidel dan Aquila duduk di bangku.

“Tadi kamu diantar siapa, Aquila?” Fidel membuka pembicaraan.

“Oh, itu kakakku. Dia sekalian berangkat kerja di planetarium,” jawab Aquila. “Omong-omong, kamu ganti kacamata, ya, Fidel?”

Fidel tersenyum malu. “Iya, bagaimana menurutmu? Ini pertama kalinya aku mencoba bingkai bundar, sebelumnya selalu kotak.”

Aquila berseru semangat. “Cocok sekali! Kamu jadi tambah cantik dan imut dengan kacamata baru itu!”

Wajah Fidel segera memerah karena malu. “Beneran? Terimakasih.”

Mereka membicarakan banyak hal setelahnya. Hal-hal sederhana, gosip baru di sekolah mereka, dan lain-lain. Hingga pukul 07.57, murid-murid lain sudah banyak yang datang. Fidel dan Aquila bangkit dari duduk, bersiap-siap untuk memulai kegiatan.

* * * * *

Fidel adalah salah satu murid paling mahir di klub memanah. Dia sudah memenangkan berbagai kompetisi memanah. Jangan remehkan hanya karena dia perempuan, dia bahkan bisa melontarkan panah hingga panah itu menembus panah lainnya.

Perlu kalian ketahui, di YIP, semua agennya harus memiliki paling sedikit satu kemampuan bertarung. Itu sudah disampaikan dari awal pendaftaran. Di link pendaftaran agen, akan ada kolom yang menyediakan berbagai macam opsi teknik bertarung. Salah satunya memanah. Lalu, setelah memilih opsi, perlu bukti untuk menunjukkan bahwa dia benar-benar mampu melakukan teknik bertarung itu.

Fidel memiliki banyak sertifikat memanah, tentu saja dengan mudah YIP menerimanya pada tahap tes administrasi. Lebih-lebih ketika tes bertarung. Pengawas tes dengan segera mengklik tombol lulus begitu melihat performa Fidel.

Aquila juga memanah. Kemampuannya masih di bawah Fidel, tapi sudah bisa terbilang sangat bagus. Fidel dan Aquila pertama kali saling mengenal dari klub itu. Walau mereka satu sekolah, kelas mereka berjauhan. Sedangkan May dan Alan, mereka berdua adalah atlet karate. Sama seperti Fidel, prestasi keduanya tak kalah hebat. Mereka sama-sama murid nomor 1 di klub karate.

Fian satu klub dengan saudara kembarnya Aquila, Antares. Mereka berdua mengikuti klub menembak. Fian masih baru di klub itu, sedangkan Antares sudah menjadi murid selama satu tahun. Hasil tes bertarung Fian sangat buruk. Lalu, bagaimana Fian bisa diterima di YIP? Penilaian YIP utamanya adalah berdasarkan hasil tes tulis. Tes tulis meliputi 3 sub tes tentang persoalan dari 3 divisinya. Yang tidak masuk akal, nilai Fian di ketiga sub tes itu sangat tinggi. Nilai-nilainya sama, 98. Persis.

Dalam kasus ini—nilai sama, YIP akan menentukan divisi mana calon agen itu akan tempati berdasarkan tes wawancara. Di sana, mereka akan tahu minat sesungguhnya calon agen. Karena Fian berminat di Divisi Investigasi, maka pihak YIP memasukkannya ke divisi itu.

* * * * *

Kegiatan klub memanah sudah selesai. Fidel dan Aquila berjalan beriringan ke luar bangunan.

“Aku duluan, ya, Fidel. Aku ada janji bertemu dengan temanku di cafe dekat sini,” ucap Aquila ketika Fidel mengambil sepedanya.

“Oh, iya! Bye!” Fidel melambaikan tangan, tersenyum.

Bye!”

Fidel teringat untuk membeli makanan kucing. Dia mengecek terlebih dahulu isi dompetnya, lalu bergegas pergi ke petshop.

* * * * *

Begitu sampai di rumah, Fidel memutuskan untuk beristirahat di kamarnya setelah memberikan makanan kucing pada Bunda. Tubuhnya cukup lelah setelah berbagai aktivitas pagi itu. Sambil merebahkan diri di kasur, dia menyalakan handphone dan membuka mesin penelusuran.

“Meong.”

Fidel menoleh. Si kucing hitam sedang ada di daun pintu kamarnya. Tampaknya, dia baru saja selesai makan.

“Hai, mau naik ke kasurku?” ucap Fidel sambil menepuk-nepuk kasurnya.

Kucing itu berlari kecil lalu melompat ke atas kasur Fidel. Kucing yang pintar.

“Apa nama yang cocok untukmu, ya?” gumam Fidel sambil mencari-cari ide nama yang bagus di handphone-nya. Si kucing hitam duduk manis di dekat lengan Fidel.

“Bagaimana kalau Kuro? Dalam bahasa Jepang, artinya hitam. Rambutmu kan hitam.”

Si kucing hitam tiba-tiba menggerung samar. Fidel sadar, sepertinya kucing ini tidak suka.

“Hmm, kakimu warnanya putih.” Fidel ganti membuka translator. “Kaki bahasa Jepangnya Ashi. Putih bahasa Jepangnya Shiro. Kalau digabung, Ashiro? Haha, kok jadi aneh sih.”

“Kuro dan Shiro. Kushi? Shiku? Shiko? Terlalu aneh ... “ Fidel kembali menggumam. “Ah, sekalian diplesetin saja. Chico terdengar imut.”

Kucing hitam itu mendengkur pelan. Dia menyundulkan kepalanya pada lengan Fidel. Nampaknya dia suka dengan nama itu.

“Baiklah, namamu Chico, ya.”

* * * * *

Pukul 1 siang, Fidel pergi ke markas. Dia hendak menyelidiki lebih lanjut tentang kemungkinan adanya kasus pengeboman berantai yang kemarin dia diskusikan dengan May dan Aquila.

Parkiran tidak sepadat biasanya. Khusus untuk hari Sabtu dan Minggu, agen tidak diwajibkan untuk ke markas. Pihak atas tahu kalau agen-agen mereka masih bersekolah, maka mereka membebaskan waktu untuk akhir pekan.

Fidel melangkah cepat ke ruangan. Di sana, hanya ada beberapa agen senior. Tidak ada Aquila ataupun May. Fidel duduk di kursinya, menyalakan komputer, dan mulai bekerja.

Satu jam mengumpulkan informasi, Fidel menghela napas. Dia berhasil menggariskan informasi-informasi yang saling berhubungan, namun tetap saja, lukisan jawaban atas teka-teki itu masih belum sempurna.

Usai mencatat apa yang dia dapat di tabletnya, Fidel memutuskan untuk bertanya pada Kepala Divisi. Dia mengirim pesan kepada orang itu, menanyakan apakah bisa ditemui hari ini. Kebetulan, Kepala Divisi sedang online, dia membalas pesan Fidel dengan cepat.

“Silahkan ke ruanganku. Mumpung lagi senggang nih.”

Fidel tersenyum senang. Dia bergegas pergi ke ruangan Kepala Divisi.

Tiba di depan ruangan Kepala Divisi, Fidel mengetuk pintu. Setelah mendengar suara mempersilahkan, Fidel menempelkan kartu akses YIP ke smart lock di samping kusen pintu. Terdengar suara dering pelan, diikuti pintu yang membuka.

Ruangan itu tidak cukup luas untuk ukuran ruang yang hanya dipakai oleh satu orang. Rak dan lemari berjejer rapi di dinding. Meja tamu dan sejumlah sofa diletakkan di tengah ruangan. Di ujung ruangan, berdiri tegak sebuah meja besar dengan tumpukan dokumen-dokumen, komputer, dan berbagai barang lainnya. Di belakangnya, sang Kepala Divisi tengah duduk sambil membereskan kertas-kertas yang berserakan di meja. Lampu dimatikan, cahaya matahari masuk melalui jendela besar.

“Oh hai, Fidel. Lama tidak bertemu. Aduh, aku sibuk akhir-akhir ini. Lihatlah, banyak sekali hal yang harus kuurus. Aku sampai bingung, apa sih yang sedang kuurus ini?” tepat ketika Fidel melangkah masuk, Kepala Divisi langsung mengomel. Wajahnya terlihat kelelahan sekaligus kesal.

“Hai, Kak Liana. Pantas saya sudah jarang melihat Kakak. Lalu, bagaimana dengan kegiatan kuliah Kakak?” tanya Fidel, basa-basi.

“Buruk. Walau penelitianku berjalan lancar, namun tidak dengan penulisan skripsinya. Aku sudah berkali-kali mendapat revisi. Sepulang dari bekerja di sini, bukannya istirahat di rumah, aku biasanya malah begadang untuk mengerjakan skripsi. Beruntung dosen-dosenku memaafkan aku karena terlalu sering izin tidak masuk kuliah—hal yang membuatku sangat heran. Aku tidak pernah menyangka pekerjaan sebagai Kepala Divisi ini sangat berat.”

Fidel mendengarkan dengan baik. Kak Liana adalah agen paling tua di divisinya. Agen-agen Divisi 3 memanggilnya dengan sebutan ‘Kakak’ dan tidak ada yang memanggilnya ‘Mbak’. Karena begitu ada yang memanggilnya ‘Mbak’, bersiap-siap mukanya bonyok ditendang Kak Liana.

“Baik, sudah cukup basa-basinya. Duduklah, Fidel. Apa yang hendak kamu bicarakan?” ucap Kak Liana sambil duduk di sofa.

Fidel turut duduk. “Jadi gini, Kak. Kemarin, ketika merekap data kasus-kasus pengeboman, saya menemukan suatu pola.”

Fidel menjelaskan semua yang dia diskusikan dengan May dan Aquila kemarin, termasuk kejanggalan berhentinya pola itu selama lebih dari satu bulan. Kak Liana mengangguk-angguk, di wajahnya terlihat ekspresi antusias.

“Itu penemuan yang sangat brilian, Fidel. Kamu bisa mencari pola tersembunyi. Jujur saja, aku juga sempat kaget saat bulan-bulan itu, saat terjadi pengeboman dengan jarak 18 hari. Kayak, ‘Hah? Ada yang ngebom lagi?’.” Komentar Kak Liana setelah Fidel selesai menjelaskan. “Lalu, apa yang kamu butuhkan hingga menghadap ke aku?”

“Tadi aku mencari informasi lebih banyak untuk bisa membuktikan kebenaran teoriku, kak. Namun, ada beberapa informasi yang belum lengkap. Aku butuh lebih banyak informasi.” Fidel berhenti sesaat. “Maka dari itu, apakah aku boleh mengakses Key Frame YIP untuk menggali lebih dalam?”

Kak Liana terdiam. Sejujurnya, dia sudah memprediksi bahwa penjelasan Fidel akan mengarah ke sini. Key Frame berisi seluruh data yang dimiliki oleh YIP. Data yang dikemukakan ke publik, data yang dirahasiakan, dan lain-lainnya. Akses menuju Key Frame hanya dimiliki oleh agen-agen tertentu.

Setelah berpikir beberapa menit, Kak Liana akhirnya buka suara. “Key Frame bisa membantumu memecahkan misteri ini. Kamu juga adalah agen genius yang sudah kupercayai sejak pertama kamu masuk organisasi ini. Tentu saja aku membolehkan, selama itu untuk hal baik.”

Mata Fidel membesar, alisnya terangkat. Mulutnya membuka, hendak mengatakan sesuatu.

“E e e eitsss, tapi ada syaratnya.” Kak Liana meletakkan tangannya beberapa centimeter di depan wajah Fidel. “Aku hanya memberimu waktu sepekan. Selama sepekan, mulai dari hari ini, aku akan memassukkan email mu ke daftar pengguna yang dapat mengakses. Setelah rentang waktu habis, aku akan menghapusnya. Paham?”

Fidel mengangguk. “Paham, Kak! Terimakasih banyak!”

“Sama-sama.” Kak Liana tersenyum.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar




search

New Post