Youth Intel Patrol (Bab 4)
Rumah itu sepi. Usai Isya’, semua lampu dimatikan kecuali lampu ruang keluarga. Ferry dan Fred sudah tidur di kamar mereka. Sementara Fidel, dia sibuk mengutak-atik sesuatu di meja belajarnya.
Fidel menghentikan kegiatannya dan bergerak menuju kasur. Besok, dia harus mengikuti kegiatan klub memanah.
Saat Fidel hendak menarik selimut, telinganya menangkap suara dari balkon kamarnya. Karena penasaran, dia beranjak ke jendela balkon.
Tiba di pinggir jendela, mata Fidel membesar. Di sana, duduk seekor anak kucing berwarna hitam yang sedang menggores-gores jendela. Fidel membuka jendela besarnya, lalu berjongkok.
“Hai, kucing kecil. Bagaimana caranya kamu naik ke lantai 2 ini?”
Kucing itu menatap Fidel. “Meong.”
Memangnya kucing ini paham apa yang aku bilang? Aku saja tidak tahu maksud meongannya barusan. Batin Fidel.
Kucing hitam itu melangkah masuk ke kamar, lalu menyundul-nyundulkan kepalanya ke kaki Fidel. Fidel mengangkat kucing itu dan melihatnya lebih dekat.
Rambut kucing ini tidak full berwarna hitam. Dia seperti memakai kaos kaki berwarna putih. Imut sekali.
Tiba-tiba, angin berhembus dari luar. Fidel melangkah ke balkonnya, melongok ke bawah. Sekejap, Fidel nyaris berseru melihat apa yang dia lihat di bawah. Tubuhnya hampir saja kehilangkan keseimbangan.
Dengan segera, Fidel mengenakan kerudung dan berlari turun ke halaman rumahnya. Saat membuka pintu dan berjalan ke bawah pohon mangga, dia berseru kesal sekaligus heran.
“Aduuhh, Fiaaaan, apa yang kamu lakukan, sih, di sini? Sumpah, kaget banget,” gerutu Fidel.
Di sana, Fian tengah menepuk-nepuk pakaiannya yang kotor.
“Nggak papa. Tadi aku cuma naruh kucing di balkon kamarmu.” Ucap Fian santai.
“Ngapain, coba? Kucing dari mana itu? Gimana cara kamu naik ke lantai 2?” tanya Fidel bertubi-tubi.
“Tadi sore, aku nemu kucing itu. Kubawa ke rumah, tapi kakakku marah. Barusan aku bawa ke sini setelah kuberi makan. Aku naik lewat pohon mangga, terus kutaruh kucingnya sambil jinjit.” Jelas Fian sesingkat mungkin yang dia bisa.
Fidel mendongak, menatap pucuk pohon mangganya. Memang, dahan terakhir pohon itu berada di bawah balkon kamarnya. Orang biasa tidak bisa loncat naik ke kamarnya, paling-paling hanya ujung jarinya yang sampai.
“Terus? Kenapa kamu kasih ke aku?” tanya Fidel ketus.
“Karena kamu pernah marah karena aku nggak ngasih kado ultah tahun lalu, padahal kamu ngasih kado ke aku. Ya, sudah, itu, kadonya.”
Fidel menggeleng-gelengkan kepala. Anak ini kenapa, sih. Padahal ulang tahunnya sudah mau datang lagi, tapi baru memberi kado untuk ulang tahun sebelumnya.
“Ya sudah, sana pulang! Makasih kadonya.” Usir Fidel ketus.
Fian hanya mengangguk, lalu melangkah santai ke luar halaman rumah Fidel.
Fidel kembali ke kamarnya, lalu menggeleng-gelengkan kepala. Kucing hitam itu sudah duduk di kasurnya, menjilati bulu.
“Pinter banget, ya, nyari tempat enak.”
Fidel mencari-cari kardus di kamar yang bisa dia pakai untuk tempat tidur kucing itu.
Dapat. Sekarang, tinggal diberi kain.
Fidel meraih kain bekas berwarna abu-abu polos di atas lemari. Setelah mengibas-ngibaskan kain itu di balkon, dia melipatnya sedemikian rupa supaya muat di kardus. Setelah semua siap, Fidel mengangkat kucing kecil itu ke tempat tidur barunya.
“Duduk diam di sini. Terserah mau tidur atau tidak, tapi diamlah. Jangan buat kamar rapiku berantakan, oke?” ucap Fidel, tidak peduli kucing itu paham atau tidak.
Si kucing hitam hanya menatap Fidel dengan mata bulatnya, lalu kembali sibuk menjilati bulu.
Fidel melepas jilbab, menggantungnya di lemari, lalu melemparkan tubuhnya ke kasur. Usai menarik selimut hingga dagu, gelombang otaknya segera berubah menjadi fase tidur awal.
* * * * *
Esok paginya, Fidel bangun pukul 04.17. Dia menghela napas lega melihat kucing hitam itu tidur pulas di kardusnya. Dia memerhatikan seluruh kamarnya, tidak ada yang berubah. Fidel segera mengambil wudhu, lalu sholat Subuh.
Usai sholat, dia mengetuk pintu kamar dua adiknya.
“Ferry, Fred, sudah bangun? Sholat!”
“Iyaa, Kak! Kami sudah sholat, kok!” terdengar seruan Fred dari dalam. Fidel mengangguk pelan, lalu kembali ke kamarnya.
Sekarang masih pukul 04.39. Terlalu dini untuk mandi. Lagipula, sekarang hari Sabtu. Fidel memutuskan melanjutkan kegiatannya tadi malam, mengutak-atik sesuatu di meja belajar.
Beberapa menit sibuk, Fidel mengusap rambut sembari menghela nafas. Benda yang dia bongkar sedari tadi malam ialah sebuah kacamata dengan bingkai berwarna hitam. Dia memang mengenakan kacamata sejak kelas 4 SD, namun, kacamata yang dia pegang ini berbeda. Selain kekuatan lensanya yang lebih besar, Fidel menambahkan sejumlah fitur di kacamata itu.
“Fideel! Sudah sholat?” terdengar suara Bunda dari luar kamar.
“Sudah, Bun! Ferry dan Fred juga sudah.” Jawab Fidel sambil melangkah ke luar kamar.
“Sip. Nanti mau diantar atau berangkat sendiri?”
“Aku berangkat sendiri saja. Sekalian ambil sepeda.”
“Oke kalau begitu. Bunda juga harus mengantar adik-adikmu les basket.” Ucap Bunda sambil meninggalkan Fidel.
Fidel mengangguk, lalu menutup pintu kamarnya. Dia segera kembali ke meja belajarnya. Jari-jarinya bergerak telaten, menggerakkan peralatan robotik.
2 jam berkutat dengan kacamata barunya, Fidel menghela napas.
“Akhirnya, selesai juga. Baiklah, mari kita coba.”
Fidel melepaskan kacamata lamanya, lalu memasang yang baru. Dia sempat mengernyitkan alis dan mengerjap-ngerjapkan mata, menyesuaikan diri dengan lensa baru.
Fidel melihat sekelilingnya. Dia seperti melihat dunia yang baru. Lebih jelas, lebih lurus. Dia baru sadar, sebelumnya, dia melihat benda-benda—menggunakan kacamata lama—seolah video dengan resolusi hanya 360 piksel. Juga penggaris yang lurus, di matanya terlihat agak bengkok. Namun, sekarang, semuanya jelas. Lurus. Fidel tersenyum.
Setelah berhasil beradaptasi, saatnya Fidel mencoba fitur-fitur yang dia tambahkan. Pertama, Fidel memencet sebuah tombol paling besar di sebelah kanan gagang kacamata. Pandangannya berubah menjadi seolah-olah kacamata itu dilapisi mika berwarna biru. Terdapat berbagai macam opsi fitur. Fidel mengeklik tombol lainnya, memilih fitur zoom in-zoom out. Fidel mengeklik tombol yang lain, dan berhasil! Dia bisa melihat burung-burung yang terbang di kejauhan dengan sangat jelas. Fidel mengeklik tombol itu sekali lagi, dan kini tampilan kembali ke penglihatan awal.
Fidel mencoba berbagai fitur lainnya, dan semuanya berhasil memuaskan. Fidel mengepalkan tangan dan melompat-lompat kecil saking bahagianya. Dia smpai tidak sadar sudah membangunkan si kucing hitam.
“Meoong,” kucing itu mengeong.
“Eh, maaf, aku membangunkanmu,” Fidel buru-buru menghampiri kucing itu, mengelus-elusnya. “Tidurlah lagi.”
Kucing itu mendengkur, kembali memejamkan mata.
“Aku harus memberi tahu Bunda tentang kucing ini.”
Fidel segera melangkah ke luar kamar, lalu mencari bundanya di bawah. Dia mendapati sang Bunda tengah menyiapkan sarapan.
“Eh, Fidel. Sudah pakai kacamata baru, nih. Sudah selesai kamu modifikasi?” tanya Bunda.
“Hehe, iya, Bun. Sudah selesai semuanya,” ucap Fidel nyengir. “Aku mau cerita, Bun.”
Fidel menceritakan semua yang terjadi tadi malam. Bunda mengangguk-angguk, lalu mengikuti Fidel untuk melihat kucing hitam itu.
“Wah, lucunya,” ucap Bunda, lalu mengelus-elus kepala kucing itu. “Boleh, kok, kalau kamu mau pelihara. Bunda tidak keberatan, Ayah juga seharusnya tidak. Nanti, kamu tanya Ayah, ya.”
Fidel mengangguk. “Aku memang mau, Bun, memelihara kucing ini. Tapi, aku takut waktuku habis dengan kegiatan sekolah dan organisasi. Nanti, siapa yang menemani kucing ini bermain?”
Bunda tersenyum. “Tidak usah dipikirkan. Adik-adikmu kan bisa. Bunda juga bisa sesekali memandikan kucing ini. Oh, iya, dia belum diberi nama?” tanya Bunda sambil menunjuk kucing hitam itu.
Fidel menggeleng. “Belum. Aku belum terpikirkan nama yang bagus.”
“Nah, pikirkanlah dulu. Biar dia tahu siapa panggilannya.” Bunda berdiri. “Sudah, Bunda mau melanjutkan memasak. Cepat mandi, ya!”
“Siap, Bun!”
* * * * *
Pukul 07.03, Fidel sudah siap pergi ke klub. Dia mengenakan celana training, manset yang didobeli dengan kaos lengan pendek, jilbab hitam, dan kaos kaki putih. Usai memasukkan handphone dan dompet ke dalam tas kecil, dia turun ke ruang makan untuk sarapan.
Sarapan hari ini adalah nasi goreng dan telur ceplok saus tiram. Menu yang paling sering dimasak Bunda ketika akhir pekan.
“Ini ada jus mangga juga. Bunda baru ingat ada stok mangga di kulkas dari beberapa hari yang lalu. Daripada keburu busuk, Bunda buat jadi jus sama es krim, deh,” ucap Bunda sambil membawa teko besar berisi jus mangga ke meja makan.
“Iya, Bun.”
Fidel melanjutkan makan. Sesekali meminum jus. Setelah selesai semua, dia mencuci semua peralatan makan yang tadi dia gunakan.
“Bunda, aku berangkat dulu, ya.” Fidel menyalimi tangan Bunda yang sedang menonton televisi.
“Iya, hati-hati.” Bunda tersenyum. “Oh, iya, nanti jangan lupa beli makanan untuk kucing barumu itu, ya.”
Fidel mengangguk. Dia bergerak menuju gudang di samping pintu masuk, mengambil busur dan panah kesayangannya. Semua perlengkapan lainnya juga tersimpan di tas yang sama.
“Assalamu’alaikum,” ucap Fidel sambil melangkah ke luar rumah.
“Wa’alaikumussalam.”
Usai mengenakan sepatu, Fidel berjalan ke luar halaman dan berlari-lari kecil ke bengkel untuk mengambil sepeda.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan

Komentar